[TWOSHOOT][FF] Hiding My Heart – Two – [END]

Annyeong, Adaya back!. Maaf ya lama sekali updatenya 🙂

…..HAPPY READING…..

Untitled

Title                 : Hiding My Heart

Author           : Angevine Pontius Fosters ( Adaya )

Main Cast     : Choi Sooyoung as Choi Sooyoung, Choi Siwon as Choi Siwon.

Side Cast       : Im Yoona as Im Yoona, Lee Donghae as Lee Donghae, Max Changmin as Choi Changmin, Tifanny Hwang as Fanny Hwang

Type                : TWOSHOOT

Genre              : Hideous Romance, Unconditional love, New Adult, Friendship, Believe

Playlist          : Hiding My Heart by Adele, She’s Gone by Black Sabbath, Christina Perri by A Thousand Years.

– Last Chapter- 

“You come to love not by finding the perfect person, but by seeing an imperfect person perfectly.” by Sam Keen

******************

Sooyoung POV-

Diambil dari Jurnal Choi Sooyoung, 

Summer, The Edge of Nowhere 2012 

6 bulan pasca perceraian dengan Changmin 

Manusia takut pada diri mereka, pada kenyataan yang ada di hadapan mereka, pada semua perasaan yang mereka rasakan. Manusia berbicara tentang betapa indahnya cinta, tapi itu omong kosong. Cinta itu sakit, sebuah perasaan yang mengganggu. Manusia selalu berfikir bahwa rasa sakit adalah iblis dan sesuatu yang membahayakan. Tapi bagaimana mereka bisa mencintai jika mereka takut untuk merasakan sesuatu? Rasa sakit ada untuk menyadarkan kita. Manusia menyembunyikan rasa sakit mereka. Mereka salah. Rasa sakit adalah suatu hal yang harus dipikul. Kau akan menemukan kekuatanmu dalam rasa sakit yang kau rasakan. Ini semua tentang bagaimana kau bertahan. Rasa sakit adalah perasaan. Dan perasaanmu adalah bagian dari dirimu. Realitamu. Jika kau merasa malu dengannya, dan menyimpannya, kau telah membiarkan masyarakat mengancurkan jati dirimu. Kau harus bertahan dalam menghadapi rasa sakit. Mengadapinya dengan lantang dan menerimanya dengan lapang. *

You can do it, Soo. You can do it!!

Ini seperti yang dikatakan Tolstoy, kebahagiaan itu semu, dan rasa sakit adalah sebuah cerita..

Tuhan memberimu kesempatan untuk menuliskan kisahmu sendiri, menuliskan semua rasa sakitmu agar semua tahu, bahwa rasa sakit itu sudah selayaknya dirasakan siapapun yang memiliki hati… 

**************

The Edge of Nowhere 2012 

Author POV-

No.No I can’t do it. 

Siwon selalu mengingat Sooyoung sebagai gadis berambut coklat gelap dan mata sekelam malam. Tubuhnya indah, sedikit ramping. Dia bahkan memiliki kaki yang indah, kaki yang berwarna coklat keemasan jika berdiri di bawah semburat sinar mentari musim panas. Tapi siapapun yang melihat kedaan Sooyoung saat ini harus dimaafkan jika mengira dia adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa yang kabur. Atau salah satu peserta putri paling jelek sepanjang masa yang luput dari penobatan.

“Apa yang kau inginkan?”

“Kau!”

“Itu tidak lucu.” Balas Sooyoung lemah. Dia tak mampu berpikir jernih saat kedua mata yang dulu selalu memancarkan cinta saat memandangnya, berbalik menghujamnya dengan kedengkian.

Ketakutan yang luar biasa dalam suara Sooyoung membuat Siwon tersenyum sinis. ” Why so nervous, Soo?”

Tubuh Sooyoung gemetar saat Siwon melangkahkan kakinya untuk membunuh jarak diantara mereka. ” Kau sedang marah. Sangat marah sehingga tak berpikir jernih.”

“Marah? Apa kau tak punya kata lain untuk menggambarkan rasa muak berlebihan ketika aku melihat orang yang paling aku benci di dunia ini berdiri di hadapanku?” Dengus Siwon lirih.

“Kau tak menginginkanku.” Sahut Sooyoung yang mulai melangkahkan kakinya mundur seiring langkah Siwon yang mendekat. Dia terus mengatakan pada dirinya sendiri, meyakini bahwa Siwon tak benar-benar menginginkanya. Dia harus membunuh harapan sekecil apapun. Demi mereka. Demi Siwon.

Wrong answer, lass. Aku marah padamu. Tapi aku tetap menginginkanmu.” Senyum tipis terlukis di bibir Siwon. Senyum yang hampir tulus. Getaran hangat meluncur ke sekujur punggung Sooyoung saat kelebatan kenangan di masa lalu menghantuinya.

“Lupakan aku, Siwon. Kau harus menerima kenyataan.” Gumam Sooyoung tak mampu lagi menahan kepedihan di matanya. Dia berdoa dalam hati agar Tuhan menolongnya mengubur semua rahasianya di relung hatinya yang terdalam. Menjauhlah Choi Siwon, menjauhlah dariku …

” Lagi lagi jawaban yang salah, lass. Apa kau pernah mendengar pepatah, If it’s not difficult, it’s not worth it. Dan–” Siwon mengulurkan tanganya untuk menarik tangan Sooyoung yang terus mundur seiring langkahnya mendekat. “Berhentilah menjauh!” Ujar Siwon seraya meremas tangan Sooyoung perlahan. ” Semakin kau menghindariku, Soo. Semakin aku menginginkanmu. Tapi — “

Sooyoung hampir percaya pada perkataan Siwon yang diucapkan dengan lembut. Dia hampir percaya bahwa kebahagiaan mungkin ada  baginya. Dia hampir percaya bahwa semarah apapun Siwon padanya, cinta mereka tak pernah pudar. Sooyoung merasa terbuai dengan janji janji tak kasat mata akan kebersamaan mereka lagi. Tapi suara lirih Siwon di telinganya membuat Sooyoung merasa hancur berkeping-keping. ” — hanya dalam mimpimu, Sayang.”

Tatapan Sooyoung menyiratkan luka karena penghinaan Siwon. Dia mempermainkan Sooyoung. Siwon menikmati permainan ini. Membuat Sooyoung percaya seolah Siwon masih menginginkannya dan kemudian menampar Sooyoung dengan kenyataan.

“Aku bukan anjing gelandangan yang  mengetuk semua pintu yang tertutup. Aku tak mungkin menginginkan orang yang sudah membuangku. Aku hanya ingin melihat reaksimu, lass. Ah, kau kecewa?” ejek Siwon saat melihat air mata menggenang di pelupuk mata Sooyoung. Dia mengarahkan ibu jarinya untuk menghapus air mata yang menetes di pipi Sooyoung. ” Jangan terlalu kecewa, lass. Aku hanya sedikit menggertak. Kau adalah masa lalu bagiku, sebuah kotoran di hati yang sudah aku buang jauh bertahun tahun yang lalu. Jika aku mengingkanmu, semata-mata untuk menunjukkan bahwa kau telah berbuat kesalahan besar dengan meremehkan ketulusan dan cintaku.” Siwon memberi senyum dingin pada Sooyoung sebelum melepaskan genggamanya dengan kasar.

“Selama dua minggu ke depan, Soo. Kau akan merasakan neraka yang kau timbulkan selama sepuluh tahun ini dalam hidupku. Some people don’t understand the promises they’re making when they make them. Some people, Soo. But you?

Sooyoung merasa terluka dengan perkataan Siwon. Tapi dia lebih terluka karena kenyataan selama sepuluh tahun ini Siwon masih tersiksa dengan perpisahan mereka. Sooyoung memaksakan perpisahan mereka agar Siwon melupakanya, mencari wanita lain untuk dicintai, dilimpahi kasih yang selalu Sooyoung yakini ketulusannya. Sooyoung ingin Siwon bahagia, dengan wanita yang baik, dengan wanita yang pantas, dan bukan dengan dirinya. “Maafkan aku …” Ucap Sooyoung lirih.

Kilat kemarahan kembali muncul di mata Siwon. “Bitch, please! Kau semakin membuatku jijik dengan memohon pengampunanku! Aku tak akan mundur selangkahpun untuk menunjukkan padamu bahwa yang terjadi diantara kita di musim panas kala itu bukan delusi.  Simpan kata maafmu di akhir, Soo.” Siwon mencengkram lengan Sooyoung dengan erat. Jemarinya meremas dengan tekanan yang menyakitkan saat dia menghujamkan perkataan yang menyakiti hati Sooyoung. Sooyoung meringis perlahan karena Siwon menyentuh lenganya yang hampir remuk karena kemarahan Changmin. Detak jantung Sooyoung semakin cepat seiring dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya hingga membuat Sooyoung melihat kelebatan mengerikan di matanya. Udara seakan terkuras dari paru-parunya. Sooyoung berusaha menenangkan pikiranya, dia berusaha mengingat perlatihan yang diberikan terapisnya. Sooyoung berusaha menarik napas melalui mulutnya yang kering.

Siwon masih menumahkan umpatanya melalui kata kata, tapi Sooyoung hanya mampu menangkap deburan lembut angin yang masuk ke telinganya. Sooyoung menutup matanya dengan perasaan perih. Dalam hatinya tak berhenti berdoa pada Tuhan agar dia tak menunjukkan kelemahanya. Biarlah Siwon salah mengartikan permintaan maafnya. Biarlah Siwon berpikir sesuka hatinya. Lutut Sooyoung sudah gemetar tak mampu menyangga tubuhnya saat serangan panik itu muncul perlahan. Dia sudah tak pernah mengalami serangan panik sejak perceraiannya dengan Changmin, tidak pula saat kematian kedua orangtuanya. Tapi hari ini? Kali ini? Di hadapan Siwon..

“Soo?” Tanya Siwon saat menyadari wajah Sooyoung memucat. “Soo? For God Sake!” Umpat Siwon saat dia menyadari cengkramanya di lengan Sooyoung terlalu kuat.

Sooyoung terhuyung mundur saat Siwon melepaskanya secara tiba-tiba. Yoona memekik saat kepala Sooyoung menyentuh tanah. Tuhan.. kenapa sekarang.. kenapa saat ini… ketika aku ingin menunjukkan padanya, aku baik baik saja … Ujar Sooyoung sebelum segalanya menggelap.

*********************

The Edge of Nowhere, 2002

Sooyoung POV –

Aku bahagia. Aku bahagia. Aku berusaha bahagia. Aku berharap aku bahagia. Apa aku bahagia?

Aku menyapukan pandanganku ke sekeliling ruangan serba putih yang sekarang aku sebut rumah. Changmin masih ada di rumah sakit, dia tak pernah pulang terlambat kecuali ada pasien yang membutuhkan penanganan khusus.

Aku mencoba mengembalikan kosentrasiku pada buku yang aku baca. Aku mencoba memahami kalimat-kalimat yang terasa mengalir tanpa aku mengerti maknanya. Changmin selalu menyebutnya media for the brain dead, saat aku mengatakan keluhanku tentang kurangnya kosentrasiku terhadap cerita di TV atau buku yang aku baca. Aku tak mengerti, apa hal itu merupakan bagian dari serangan panik atau despresi aku derita selama setahun ini. Aku hanya tahu aku kehilangan separuh dari kosentrasiku setelah aku mengalami despresi pasca operasi pengangkatan rahimku.

Hidupku seperti di neraka saat itu. Semua yang kulihat hanyalah masa depan suram yang menyatakan aku bukan wanita seutuhnya. Aku mulai mencoba melupakan Siwon perlahan, tapi aku tak bisa membodohi hatiku. Changmin mungkin mampu mengobati senyuman di bibirku tapi dia tak bisa mengembalikanya utuh seperti saat aku bersama Siwon.

Aku selalu mengagap Changmin sebagai seorang pelindung yang memberikanku uluran tangan saat aku membutuhkanya. Sebuah semangat yang diberikan oleh seorang ahli terapis. Tapi itu tak sama dengan cinta dan ketulusan yang menghangatkan hatiku yang telah hancur.

Aku menikahi Changmin, karena dia mengetahui kebenaran dari diriku. Dia memberiku janji untuk tak menuntut lebih banyak. Dia lelaki yang tak ingin memiliki anak, dia jenis lelaki yang cukup hanya dengan aku dan dirinya. Dia bukan jenis lelaki yang akan aku nikahi saat aku masih memiliki rahimku sendiri. Changmin mau mengadopsi anak jika aku menginginkanya. Tapi aku masih terlalu mudah, dia selalu menggapku belum cukup umur untuk megasuh seorang anak. Aku selalu menepis rasa kecewa itu dengan memberi keyakinan bahwa Changmin tak bermaksud menghinaku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan pelan dan kemudian dia akan meminta maaf karena menyakiti egoku sebagai seorang istri. Kami menjalani pernikahan yang tenang dan jarang sekali bertengkar. Dia tak pernah meributkan kekuranganku dalam segala hal.

Aku menghela napas saat memutuskan menyerah dan beranjak ke dapur untuk mengambil air dingin.

“Nyonya.”

Aku melihat Chole, pembantu yang dipekerjakan oleh Changmin untuk mengurus rumah kami. Dia tak tinggal bersama kami. Chole hanya datang tiga kali dalam seminggu untuk mengurus rumah kami. ” Bibi, bagaimana harimu? Apa kau butuh bantuan?”

Chole melirik padaku dengan pandangan yang sulit aku artikan. Dia wanita yang jarang sekali tersenyum. “Tidak, terimakasih.” Ujar Chole saat membawa sekeranjang besar cucian menuju ruang laundry.

“Apa kau sudah lama bekerja pada Changmin?” ujarku seraya menyodorkan dua iris puding padanya.

Chole lagi-lagi memberiku tatapan penuh makna sebelum mengangguk lirih.

“Ah.” Sahutku karena aku merasa Chole tak ingin berbicara padaku. “Chole, jika kau butuh apa apa aku ada di kamar. Aku merasa sedikit pusing hari ini, jadi aku akan menghabiskan siang ini dengan tidur. Jangan sungkan untuk mengambil apapun di dalam lemari pendingin.”

Aku akan berbalik saat Chole mendengungkan namaku dengan nada takut. “Chole?”

Wanita paruh baya itu terlihat ketakutan saat mengucapkan kata-kata yang seperti buaian angin. “Segeralah pergi. Tinggalkan tempat ini. Jauh…”

Aku mengerutkan dahiku saat wanita itu meninggalkanku sendiri di dapur. “Chole, tunggu!” Aku mengejar wanita itu. Dia tampak ketakutan saat aku menuntut penjelasan darinya. “Apa maksudmu?”

Chole nampak ketakutan. Dia memandang ke sekitar ruangan seolah ada orang lain di ruangan itu. ” Chole?”

“Maafkan aku, Nak. Kau begitu baik. Kau sangat cantik, aku tak ingin kau terluka seperti nyonya yang sebelumnya. Pergilah selagi kau bisa. Dia bukan orang baik. Dia bukan seperti yang kau kira. Ada topeng di balik wajah malaikatnya itu. Dia monster. ” Kata Chole dengan kata yang tumpang tindih.

“Nyonya yang sebelumnya? Apa maksudmu, Chole? Suamiku pernah menikah sebelumnya?”

Chole terlihat ingin menangis saat aku memaksanya untuk menjelaskan segalanya. Kenyataan bahwa Changmin mungkin menyembunyikan masa lalunya dariku membuat aku ingin muntah. Monster. Dan apa maksud perkataan Chole. ” Aku tak bisa menjelaskan padamu lebih dari itu, Nak. Ada banyak mata di sini. Dia mengawasi kita. Mengawasimu. “

Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi Chole sudah membanting pintu dan berlari keluar. Aku mencoba menenangkan diriku dari kepanikan yang merambati hatiku. Aku harus yakin pada Changmin. Aku mengenal dia. Aku mengerti dia. Benarkah?. Aku mulai mendata semua ingtanku soal Changmin dan masa lalunya, hanya untuk sadar bahwa aku tak mengenalnya sama sekali. Changmin selalu menyuruhku tinggal di dalam rumah jika dia sedang pergi ke rumah sakit. Changmin melarangku pergi ke bagian belakang kebun, tempat bangunan usang yang Changmin jadikan laboratorium percobaan atau ruang kerjanya. Dia mengatakan dia lebih suka bekerja terpisah dari rumah karena tak ingin menjadikan rumah seperti rumah sakit. Changmin juga melarangku pergi ke lantai teratas rumah ini. Terutama kamar paling ujung dari tangga. Dia mengatakan ruangan itu terlalu lembab karena mentari terhalang oleh Pohon Mahoni yang tumbuh lebat di balik kamar itu. Dia tak ingin aku terserang penyakit karena kekebalanku yang masih lemah. Tapi entah dari mana suara suara yang membuatku tergelitik untuk mengintip ruang terlarang di rumah ini.

Aku mulai menapaki anak tangga kayu yang dibangun sangat kokoh dari kayu ek, melingkar seperti spiral DNA. Changmin suka dengan warna putih, hampir semua rumah bercat putih kecuali beberapa ceruk yang dihias dengan warna beige lembut. Aku menahan napas, berulang kali suara hatiku menyuruhku untuk menjauh. Tapi kaki dan tubuhku seolah punya pikiran sendiri untuk terus melangkah. Aku tiba di ujung tangga dengan perasaan berdesir.

Suara derit lantai mengiringi langkahku dengan ragu. Berulang kali suara hatiku menyuruhku untuk menjauh. Ini gila, tapi berjuta juta pertannyaan tiba tiba muncul di kepalaku. Aku semakin dekat dengan kamar terlarang. “Tidak, Soo. ” Gumamku pada diriku sendiri. Entah darimana datangnya keyakinan, bahwa apapun yang ada di balik pintu itu akan membawa bencana bagiku. “Tidak, ini hanya pintu. Changmin akan mengerti. Ini juga rumahku.”

Aku menghela napas terakhir sebelum membuka pintu kamar itu. Bau udara pengap dari kamar itu menguar di udara saat aku membuka pintunya. Kamar itu gelap, hanya cahaya samar yang berhasil menembus jajaran pepohonan di yang meneranginya. “Sial.” Gumamku saat penerangan di kamar itu tak berfungsi. Ini hampir senja, dan cahaya yang masuk semakin minim. Terbesit untuk kembali ke lantai satu dan membiarkan segalanya terkubur sebagai rahasia, tapi suara dengingan aneh yang datang dari salah satu tembok membuatku terlonjak.

“Siapa?” Tanyaku pada ruangan kosong itu. Aku yakin aku mendengar suara samar yang hampir mirip suara tangisan seorang wanita.

Dengan menyingkirkan segala ketakutanku aku mulai meraba tembok yang ternyata terbuat dari kayu itu. Suara itu semakin jelas. Suara dari seorang gadis yang sedang merintih. “To…long…” Aku terlonjak mendengar suara penuh kesakitan itu. Suara yang tak kulihat sosoknya. Aku mencoba mengikuti suara itu dan menemukan getaran nafas yang semakin jelas. “Tolong aku.”

Aku meraba raba tembok itu dan menemukan tekstur yang lebih menonjol dibanding yang lain. Aku mencoba untuk mendorongnya dengan keras. Pintu tak terlihat itu bergeming. Aku mulai putus asa, tapi suara mobil Changmin yang baru memasuki halaman depan memberiku harapan. Aku segera berlari ke balkon untuk meminta bantuan padanya.

“Chang….” Kata kataku berhenti saat aku melihat Changmin membawa dua gadis remaja, mereka lebih mudah dariku. Satu diantaranya terlihat masih berumur 14 tahun, masuk ke dalam ruang kerjanya yang terpisah dari rumah utama. Changmin pasti tak menyadari aku melihatnya dari balkon. Dia tak pernah tahu aku berani melangkahkan kakiku ke lantai teratas. Inikah alasanya? Inikah alasanya dia melarangku ke lantai teratas? Karena dari balkon ini aku mampu melihat segalanya. Mampu melihat kegiatan yang selama ini dia sebut sebagai ‘pekerjaan’. Siapa dia? Siapa lelaki yang kunikahi selama ini. Senyum Changmin yang diberikan pada dua gadis mudah itu bukan senyum lembut yang membuatku setuju untuk menikahinya. Ada berapa pribadi dalam diri suamiku.

Air mata yang mengaburkan pandanganku, anehnya memberiku kekuatan untuk megungkap kebenaran dari semua ini. Aku kembali ke kamar terlarang dan mencoba mendorong pintu di dinding itu dengan frustasi. “Bantu aku Tuhan, bantu aku.” Gumamku dengan keringat mulai membasahi dahiku. Dengan dorongan keras untuk terakhir kalinya aku terjerembab saat pintu itu terbuka.

Ruangan itu lebih gelap, tak ada jendela atau celah bagi cahaya untuk masuk. Aku terbatuk karena pengapnya udara yang bercampur dengan bau kotoran manusia. “Kau dimana?” Sedikit terkejut, ruangan ini ternyata lebih besar dibanding perkiraanku.

“Kau dimana?” Ulangku sekali lagi, sambil menajamkan pandanganku yang sudah mulai terbiasa dengan kegelapan.

“Si..ni..Di sini…” Suara lembut itu datang dari ujung ruangan. Aku meraba raba dinding untuk membantuku mendekat ke arah suara itu. “Oh.” Pekikku saat melihat sosok kurus itu terbaring di lantai. Sessat sebelum aku meraih sosok itu tiba-tiba suara yang sangat aku kenal muncul dari balik kegelapan. Suara yang biasanya tenang dan lembut kini terdengan diwarnai kemarahan. Kemarahan yang menakutkan ” Apa yang sedang kau lakukan di sini, Soo? Kau melanggar peraturan, lass. Dan kau tau apa akibatnya bagi si pembangkang….”, ada senyum kejam terlukis di bibir suaminya sebelum melanjutkan, “hukuma!”

“Ya Tuhan.”

************

== FULL CHAPTER COOMING SOON ===

.

Advertisements

18 thoughts on “[TWOSHOOT][FF] Hiding My Heart – Two – [END]

  1. Oke… saking lamanya. Aku sampai lupa bagaimana tips membaca ff kamu eonn. Jangan langsung scroll ke bawah. Lihat tanggal/bulan/tahun yang tertera. Dan harus diingat biar gak terkecoh. Tadinya sempat bingung. Tapi, setelah baca ulang. Akhirnya mengerti 😂

    Btw, welcome back eonn. Kangen banget dengan ff mu 😢 FF Soowon sekarang sepi 😢

    Oh ya, Siwon kalah killer dengan Changmin. Changmin mungkin lebih ‘sakit’ dalam urusan psycho 😖

    • anyyyyyyyyongg senang rasanya bisa bertegur sapa lagi #peluuuuuuk virtual

      iya ini saya gak bisa tidur karena mungkin banyak yg nyumpahin saya dalam hati buat ngelanjut ya heheheh yg lain korban PHP #ratuPHP di WP ini

      makasih sudah membaca ya …2013 – 2016 selang 3 tahun bukan waktu yang singkat. Makasih atas komen pertamanya ya dek :”)

  2. Hay salam kenal, aku reader lama dsni tapi baru komen sih 😁
    Udh lama banget nih wp tak ada penghuninya, sampe kaget waktu cari ff soowon nongolnya yg ini tapi dikasih tau kalo 3 hari yg lalu baru update tak pikir google nya salah ini seharusnya kan 2 atau 3 tahun yg lalu. Tapi setelah berkunjung ternyata bener baru ada lagi penghuninya 😂
    Btw aku fans berat ff2 mu dan harus kecewa ketika tau banyak ff yg putus ditengah jalan.
    But welcome back semoga dengan kembalinya kamu author2 yg lain mau kembali lagi 😍😍😍

  3. Chingu jgn digantung2 terus full version pleases
    Adaya gak bisa tdr krn banyak hutang tuh kelamaan nunggak peace!!!
    Chingu jgn lupa semua dilunasin Klo perlu pake bunga maksudnya ff baru hehehe

  4. oh my god, sebenernya changmin ngapain itu??? ini juga siwon malah mau balas dendam ckckck kasian sooyoungnya sampe pingsan begitu 😦

    • oiya ketinggalan, aku juga aku sempet ragu mau baca ff ini awalnya soalnya takut udah baca dan akhirnya ga ngerti jadi aku baca ulang 1 series ff ini dan ternyata setelah 3 tahun ya kak adaya baru dilanjutin.. makasih kak udah mau dilanjutin lagi dan ditunggu full versionnya

  5. Wawww ,, baru baca dari awal dan baru sadar klu ff ini udh lama yaa …
    Hemmm ,, sangat sangat penasaran dengan full versionnya …
    Maaf karna baru komen di part ini ,,,
    Ditunggu full versionnya …

  6. kaaa aku nangis asli seneng bgt akhirnya kmu balik lagiiiii aarrgghh miss u banget ga kuat jangan ilang lagi lanjutin dlu ini sampe akhir baru tar boleh ilang2an sebentar hahaha

  7. Aku pikir ini benar-benar end ternyata engga. Ayo eonni lanjutin ffnya lagi. Yang penting endingnya Soo eonni bahagia 😃

  8. Halo kak Adaya, setelah 3 tahun lalu iseng-iseng, akhirnya ketemu lagi lanjutannya, i love Soowon so much, tolong jangan digantung lama” ya kak Adayaaaaaa, please please please, full version ditunggu, harap segera

  9. Kak Adaya, aku mohon dengan sangat buat full versionnya, oh god, udah tiga tahun nunggu dan tara, please kak Adaya, aku suka cerita ini, please please please

  10. Aduh eonniiiii, udah digantung 3 tahun mau digantung lagi, ayooooo eon Adaya, tolong lanjutin ffnya, aku penasaran banget :(. Semangat, jangan digantung lama-lama

  11. Kak Adayaaaaaa, akhirnya balik juga, setelah 3 tahun menanti dannnnnn digantungin lagi, arghhhh, please jangan lama-lama ya updatenya 🙂 . Lanjutan ditunggu secepatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s