[FF] Autumn In Hampshire – C.3 – [Pre-END 2]

Annyeong 🙂

Ah peluk virtual reader satu-satu :). Lama tak berjumpa ya, OK yah karena saya lagi ada kerjaan (memenuhi kuota baca :p) saya jadi lupa kalo punya hutang di SAC. Sebenernya udah selesai lama run-down-nya, tapi pengembangannya yang makan waktu.

Alert : Karena saya meyelesaikan ini setelah baca The Nyesek Novel series yang menguras energi, tenaga, tawa, dan emosi saya, saya mohon maaf sekali jika nantinya FF ending AIH mengecewakan :(, maaf. (bow) 

*== Happy Reading==*

9

Title               : Autumn In Hampshire

Author          : Adaya Muminah Aljabar ( oe09@live.com )

Main Cast    : Choi Sooyoung–> hemself (23 thn ) , Choi Siwon–> himself (31 thn)

Other Cast   : Max Changmin — >   himself (27 thn) , Yunho — > Choi Yunho (32 thn ) , Sooyoung Brother, Im Yoona (23 thn) 

Type              : Chapter

Genre            : Romance, Friendship, Family , Happy Ending 

Rating          : PG- 17 ( All reader who Open mind )

 Disclaimer : This Story is inspired from The Edge of Never Novel by J.A. Redmerski, Song for Julia (Thompson Sister #2) Novel by Charles Sheehan-Miles, Holder and Sky Line in Hopeless Novel by Collen Hoover, Kutc Kutc Hota Hai Movie (OTL XD), Ending Long Vocation J-Dorama, Aerosmith – ‘I don’t wanna miss a thing’ Song. Hope you like it guys. Not for to copy and Please don’t be plagiator!

= Chapter C.3 [Pre-END 2] = 

” Can we love without sin?” – Gabriel, by Sylvain Reynard, Gabriel’s Inferno.

” Sometimes things aren’t what they appear. We all have hurt that we don’t show.” – Julia, Charles S-M, Song For Julia.

“Just because you blocked the memory of me out of your mind doesn’t mean you blocked the memory of me out of your heart” 
― Colleen HooverHopeless

***************

Author POV-

Hythe, Hampshire, 2012 11:23 p.m.

Di bawah sinar rembulan yang tersapu mendung, Hythe terlihat seperti potret sempurna dalam lukisan seniman Italia di abad 19. Rumah berbata merah berjajar searah jalan yang ditata indah dengan batu alam di sekitar jalan beraspal yang selalu menjadi lalu lintas utama nelayan di Hythe Marine di siang hari. Suara deru ombak mengabur membawa angin semilir dengan bau asin khas lautan yang bergelora. Dari kejauhan Siwon bisa melihat ombak pecah yang menerjang karang yang terlihat samar seperti sosok gelap dari dunia lain. Siwon bisa merasakan ketenangan saat mengemudikan mobilnya melewati jalan berliku West street yang akan membawanya menuju ke pelabuhan. Membawanya pada suara yang bisa menghapuskan kejenuhan dalam hatinya. Dia membutuhkan angin segar untuk menjernihkan pikirannya. Dia membutuhkan segala ketenangan yang dijanjikan alam untuk menghibur kepedihannya.

Siwon menepikan mobilnya di depan sebuah bar tua tempat para kelasi dan anak buah kapal mengistirahatkan dirinya saat tak berlayar. Siwon bersiul pelan pada pemuda berusia 17 tahun yang sedang membawa satu kotak rokok di tangan kanannya. Dia melemparkan beberapa uang receh yang lebih dari cukup untuk ditukar dengan satu batang rokok dan pematik api yang hampir habis. Pemuda itu tertawa sebelum berlalu meninggalkan Siwon berdiri dalam lingkupan musik di lautan. Siwon menyampirkan jasnya ke bahu dengan malas sebelum melaju meninggalkan mobilnya di depan bar. Siwon melangkahkan kakinya menjauh, melewati beberapa pengunjung pelabuhan di tengah malam, hingga melewati palang kayu yang dijajar untuk menghindari angin laut yang kencang. Siwon berdiri mematung memandang kejauhan, ke tempat para Saxon dulu tinggal. Lampu -lampu di dataran Kent terlihat seperti bintang di langit malam, seolah menggantikan langit mendung di atas kepalanya.

Semenit, dua, tiga, hanya tiga menit yang mampu dia janjikan untuk menghapus bayangan Sooyoung dari pikirannya. Dia melihat batang rokok yang terabaikan di jemarinya. Dia tersenyum lelah, dia bukan perokok, tapi saat ini dia membutuhkan sedikit banyak penenang untuk membantu menjernihkan pikirannya. Siwon menarik napas panjang saat dua gadis muda mendekat ke arahnya.

” Butuh teman?”

Siwon melirik tanpa minat ke arah gadis berambut merah itu. Dia wanita yang menarik dengan rambut merah dan mata kobalt keunguan yang membuat lelaki waras manapun berkilat menginginkannya, hanya saja Siwon bukan salah satu dari lelaki normal saat ini. ” Tidak.” Jawabnya singkat. Dia bisa menambahkan kata ‘terima kasih’, tapi dia ingin menujukkan dia tak ingin diganggu saat ini.

Wanita berambut merah itu tersenyum dan mengerling ke arah temannya yang berdiri di sisi lain tubuh Siwon. Siwon mendesis jengkel saat wanita yang lebih pendek mendekat dan sengaja menggeserkan payudaranya ke lengan Siwon. Bukan berhasrat, Siwon malah merasa jijik memandang wanita berambut hitam itu. Dia menghentakkan lengannya dengan kasar seraya mengumpat lirih. “Demi Tuhan, apa yang dilakukan jailbait di sini. Kau harusnya ada dalam balutan piyamamu saat ini dan tidur nyenyak memeluk bonaka Teddy Bear-mu, Nak.”

Mendengar kata jailbait dua wanita muda itu membeku. Siwon tersenyum lirih. Dugaannya benar, dua wanita di hadapannya hanyalah anak di bawah umur dengan make-up tebal untuk menyembunyikan kepolosannya. Siwon memberi mereka ancaman lirih agar mereka pulang ke rumah sebelum Siwon melaporkan mereka ke pihak berwajib.

Siwon menghela napasnya lagi, tanpa sadar membuang batang rokok yang tak pernah dihisapnya ke tanah. Dia tersenyum kaku saat kembali dalam kesunyian musik lautan. Dia merasa marah pada dirinya yang hanya mampu mencintai Sooyoung, memberikan kesetiannya pada wanita itu, hasrat, dan impian yang dimilikinya hanya untuk gadis yang selalu dicintainya seumur hidup. Siwon menyesal karena tak mampu menggunakan wanita lain, seperti dua gadis yang tadi merayunya, untuk menghapuskan cintanya dari Sooyoung. Dia bisa meraih wanita manapun and doing shit called fucking untuk menghibur dirinya sendiri. Tapi Siwon sadar, melakukan semua itu hanya membuatnya semakin buruk, dia akan merasa menyesal karena penghianatan pada kesucian cintanya untuk Sooyoung. Dia mungkin menyebalkan dan tak bisa membuat Sooyoung bahagia, tapi dia selalu menjaga kesetiaan hati dan tubuhnya hanya untuk Sooyoung. Menggunakan wanita lain dan menyalurkan hasrat pada mereka hanya akan menghilangkan kenangan Sooyoung dari pikirannya, tapi bukan hatinya.

Siwon kembali menatap ke kejauhan, tempat lampu – lampu di dataran Kent berpendar, dia melihat lirih dalam hatinya, mencoba mencari penjelasan masuk akal di hatinya, mencoba mencari ketenangan, dan pengampunan?. Suara ayah Siwon menggema di telinganya, “Jemput musim gugurmu.” Siwon tertawa lirih seraya mengeluarkan cincin dari saku celananya. Cincin yang akan digunakan Siwon untuk mengikat janji dan hidupnya pada Sooyoung. Cincin yang akan membuat mereka bersatu, tapi segalanya terlambat. Siwon tak memiliki kesempatan lagi, tidak saat pesaingnya, Changmin, adalah segala bentuk kesempurnaan yang dibutuhkan untuk membuat Sooyoung bahagia. Tidak saat dirinya tak mampu lagi mencintai Sooyoung seperti dulu. Waktu telah merubah segalanya, termasuk Siwon. Siwon selalu takut akan satu hal dalam hatinya, kenyataan bahwa Sooyoung hanya mencintai kenangan di antara mereka, merindukan saat yang pernah dihidupkan Siwon dalam harinya, dan bukan diri Siwon seutuhnya. Jika itu yang membuat Sooyoung jatuh hati padanya, maka perjuangan macam apapun tak akan mampu membuatnya kembali ke sisi Siwon, karena Siwon bisa melihat sosok dirinya di masa lalu pada diri Changmin. Jika hanya kenangan yang dirindukan Sooyoung, dia tak butuh Siwon untuk mewujudkannya, tak harus Siwon.

Siwon menarik napas perlahan sebelum membuang cincin itu jauh ke tengah perairan. Dia tak bisa melihat riak air di kegelapan yang menyelimuti perairan. Cincin itu sudah tak berguna lagi saat ini, dia akan berakhir dimanapun, kecuali di dekat Siwon. ” Segalanya sudah berakhir, Appa. Berakhir, aku gagal menjemput musim gugurku.” Bisik Siwon pada dirinya sendiri. Dia mungkin menginginkan Sooyoung, tapi melihat cara Changmin mencintai Sooyoung, Siwon tersadar, dia melupakan bahwa selama masa hidupnya, dia menginginkan kebahagiaan Sooyoung. Mungkin ini akhir dari mereka, tapi jika ini memang akhir, Siwon ingin melakukan sesuatu yang tak pernah terpikir sebelumnya, membuat Sooyoung bahagia dan merelakan wanita itu dengan lelaki lain. Walau dia harus mengantar Sooyoung ke pelaminan bersama lelaki lain, mungkin itu hukuman yang pantas untuknya karena menyiksa Sooyoung selama ini.

Siwon merasa pipinya basah, seumur hidup dia tak pernah menangis, tidak setelah ayahnya meninggalkannya di Inggris, tidak sampai kabar yang membuatnya kembali bertemu ayahnya empat tahun lalu datang. Dan Siwon berjanji dalam hati, ini terakhir kali dia menangis. ” Selamat tinggal, Soo. Selamat tinggal.”

PS : Jailbait, atau Johnny bait, adalah bahasa slang untuk menjuluki seseorang yang sebenarnya masih di bawah umur dibandingkan dengan umur yang dilegalkan negara, tapi secara fisik memiliki penampilan yang cukup dewasa hingga disalah artikan sebagai orang dewasa.  

***********************

Sooyoung POV-

An few hour erlier ……

Hythe, Hampshire, 2012 08:09 p.m.

” Tersenyumlah. Kau tentu tak ingin membuat mereka mengira calon pengantinku mendengar pengumuman pemakamannya, alih-alih pernikahan yang akan membuatnya bahagia.” Bisik Changmin di telingaku. Lelaki itu menelengkan kepalanya dengan santai, seulas senyum manis terlukis di bibirnya.

“Tapi…”

” Tak ada tapi, Soo. Aku akan meyakinkanmu, nanti.” Sahutnya diwarnai nada tegas.

Aku memandang berkeliling, melihat wajah berseri dari semua orang yang mengelilingiku dengan linglung. Aku tak mengerti diriku, apa yang aku inginkan, dan apa sebenarnya yang terjadi. Aku masih merasa gamang dengan pengakuan Siwon, dan apa ini? Aku melirik Changmin yang menjawab pertanyaan beberapa tamu dengan lancar, aku melihat sosok sahabat yang selalu membuatku tertawa. Tapi apa ini? Kami hanya berpura-pura beberapa hari yang lalu, dan pernyataan Changmin detik sebelumnya membuatku hatiku seolah diremas keras. Aku mencoba mencari sosok Yoona yang duduk tak jauh di meja kami, dia memandangku dengan senyuman penuh arti, yang mungkin saat ini hanya bisa aku artikan sebagai ucapan selamat. Aku ingin menjerit bahwa mereka salah sangka, aku ingin menjerit bahwa Changmin hanya bercanda, sama halnya seperti pertunangan kami, tapi tekanan jemari Changmin di punggungku mengingatkanku bahwa aku yang memulai segalanya. Tapi, Yoona seharusnya bisa memahami, ini rencana lain, ini kepura-puraan lain, tapi tidak, ini bukan pura-pura, Changmin serius. Hanya Changmin.

Changmin menginginkanku sebagai seorang wanita, untuk dirinya sendiri, itu yang dia katakan sesaat tadi. Tapi itu masih hal yang baru bagiku, aku akan menikah, tapi tidak tanpa cinta. Oh, Tuhan, aku menyayangi Changmin, tapi aku tak pernah mencintainya. Aku mengakui jika dia membuatku nyaman, dia membuatku merasa nyaman dan bahagia setiap saat. Dia mengingatkanku pada Siwon di masa lalu, kenangan dan kejahilan yang selalu membuat emosiku naik turun, tapi tak lebih dari itu. Dia tak membuat jantungku berdegup kencang, dia tak membuatku merindukannya saat kami berjauhan, dia tak membuatku yakin mampu bersabar menunggu walau itu menyakitkan, dia tak mampu memutar balikkan duniaku. Tidak seperti apa yang ditimbulkan Siwon padaku, tapi aku akan sangat kejam jika membandingkan Changmin dengan Siwon.

Aku melihat pantulan wajahku sekali lagi di cermin yang ditata untuk menimbulkan kesan memperluas ruangan. Aku melihat mata senduku di sana, pantulan yang sama seperti yang aku lihat beberapa jam yang lalu, tapi kepalaku yang dipenuhi kekacauan membuatku sadar, aku tak mengenal wanita gamang yang menjadi bayanganku, dia hanya sosok yang pernah kutemui, tapi bukan diriku. Aku tak mengerti, aku tak mampu membantah Changmin saat ini, dia benar. Membantahnya saat ini sama halnya dengan mempermalukan Eomma di depan ratusan tamu, membantahnya saat ini sama halnya mempermalukan harga dirinya, dan aku tak ingin menyakiti dirinya, karena dia sahabatku.

Aku memejamkan mataku lirih dan melirik ke arah Siwon yang terlihat pucat di tempatnya. Dia menatapku dengan tatapan intens yang tak mampu ku artikan. Aku melihat kelebatan perih di mata hitamnya, aku merasa bersalah, tapi bukankah ini yang aku inginkan? Membuat Siwon merasakan sakit yang aku rasakan. Tidak, demi Tuhan, tidak. Aku membenci rasa perih yang ditimbulkannya dalam hatiku, dan aku cukup yakin tak menginginkan siapapun merasakan hal yang sama. Aku hanya ingin menunjukkan padanya aku mampu tanpanya, tapi keadaan saat ini?

Aku membuang muka, mengalihkan tatapanku ke arah lain, aku tak mampu melihat pandangan itu di mata Siwon. Aku tak ingin merasa bersalah, aku tak ingin….

Suara itu?

Aku menarik tatapanku ke arah panggung kecil yang digunakan para pemain musik country mengalunkan nada-nada untuk para tamu berdansa. Dan pemandangan yang ada saat ini bukan satu hal yang bahkan berani aku pikirkan walau dalam mimpi, aku melihatnya, Choi Siwon, bernyanyi di atas podium dengan mata menatapku, mata yang mengalirkan air mata. Dia menangis. Ya Tuhan….

**************

Siwon POV-

Aku mencoba mencari jawaban di mata Sooyoung. Aku mencoba mengais seperti anjing  jalanan ke dalam mata hitamnya, aku mencari cinta, cinta yang pernah ada di antara kami, aku berharap dalam hati, sedetik lagi, sedetik lagi tatapan kami tetap terkunci, dan aku akan menemukan jawaban sesungguhnya, tapi tidak, dia berpaling. Dia mengalihkan tatapanya, dia berpaling dan memutus segalanya. Jika pernyataan Changmin tentang pengumuman pernikahan mereka meremukkan hatiku, penolakan Sooyoung benar-benar melumat hatiku menjadi serpihan debu.

Aku tertawa sinis pada diriku sendiri dan mendapat lirikan dari wanita setengah baya di sampingku yang sudah sejak awal pesta mulai berpikir aku gila. Aku tersenyum padanya. ” Maafkan aku.” Gumamku tanpa arti. Mata wanita itu membulat saat aku beranjak pergi dari kursiku. Aku masih tak melepaskan tatapanku dari meja Sooyoung. Changmin ada di sana dengan senyum lebarnya, berbicara dengan Yunho dan Yoona yang berada di meja lain dengan gembira. Bibi Choi terlihat sedih dan bahagia secara bersamaan, pemandangan di hadapanku bukan pemandangan asing bagiku. Hanya satu yang berbeda, Changmin yang membuat mereka tertawa, Changmin yang menggantikanku dalam potret keluarga bahagia itu. Lebih dari tersingkir, aku merasa seperti lelaki bodoh yang menendang hidupku sediri dalam kepahitan dan menyesali belakangan.

Aku menuju ke arah podium, ini mungkin hal tergila yang akan kulakukan, tapi ini terakhir kalinya. Aku tak bisa membuat Sooyoung merasa aku tak pernah mencintainya. Jika dia akan bersama dengan lelaki lain, dia harus tahu  perasaanku sebenarnya, karena walau egois, aku tak yakin mampu memendam perasaanku lebih lama dari ini. Aku ingin dia tahu seperti apa cintaku padanya, dibalik kepedihan yang aku ciptakan untuknya, aku juga merasa sakit yang berlipat ganda.

Aku mengangguk ke arah Ian yang memberiku sebuah gitar merah metalik, aku tersenyum padanya dan memberinya aba-aba untuk mengiringi melodi yang aku mainkan, aku juga mengatakan pada Joe untuk memberiku hentakan ringan drum, aku tak begitu menyukai music country, tapi mereka band yang profesional, aku meminta mereka memainkan sedikit hentakan classic rock, karena Tuhan tahu, hanya aliran itu yang cocok di telingaku.

Aku mulaui memetik string gitarku, mencoba mencari tatapan Sooyoung, membuatnya melihat ke arahku, tapi tidak. Dia masih sibuk dengan dirinya, pikirannya. Aku terus memainkan alunan melodi dari string gitarku, aku memulai dengan melodi mendayu dan kemudian memberi isyarat pada Joe untuk memberikan hentakan ringan drumnya. Aku mohon Choi Sooyoung lihatlah aku…..

I Could stay awake just to hear you breathing 
Watch you smile while you are sleeping
while you’re far away and dreaming

Aku mulai menarik napasku dan mengeluarkan butiran lirik dari Aerosmith. Aku memulai dengan mata terpejam, mencoba mengingat Sooyoung. Ingatan saat kami masih bersama, menikmati segalanya dengan senyum dan tanpa beban, ketika aku selalu melihatnya terpejam di sampingku, saat aku menggodanya sebelum tidur, dan saat mencoba menikmati wajah cantiknya saat terlelap dalam mimpi.

I could spend my life In the sweet surrender 
I could stay lost in this moment forever 
Every moment spent with you is a moment I treasure 

Ya. Aku mampu menghabiskan seluruh hidupku dalam penyerahan manis saat ada di sampingnya, walau hanya melihatnya tertidur, tapi aku tak akan mampu kehilangan moment itu bersamanya, tiap detik, tiap waktu bersamanya adalah harta yang tak ternilai bagiku.

Aku mulai membuka mataku, air mataku tak mampu aku tahan, tapi aku mencoba. Memandang ke arah Sooyoung, dan melihatnya disana tercengang. Aku kembali mengunci tatapan kami. Mencoba mengucapkan makna dari semua tatapanku bahwa aku mencintainya.

I don’t wanna close my eyes 
I don’t wanna fall asleep
‘Cause I’d miss you, baby 
And I don’t wanna miss a thing 

‘Cause even when I dream of you 
The sweetest dream will never do 
I’d still miss you, baby 
And I don’t wanna miss a thing 

Aku tak ingin kehilangan segalanya,bahkan saat memandangnya aku tak sanggup berkedip. Aku menjauh darinya selama empat tahun, dan itu penyiksaan terbesar bagiku, aku mencintainya dengan hidupku. Dia hidupku, dan aku merasa seperti pengecut karena telah melanggar kode etik dalam mencintai seseorang, aku menyakitinya, membuatnya menunggu.

Jika saja dia tahu, aku tak mampu melepaskan mimpiku dari semua kenangan kami. Bahkan mimpi termanis yang pernah aku alami dalam hidup, bahkan ketika dia ada di hadapanku, aku tetap merindukannya. Aku tak ingin kehilangan segalanya. Aku mencintainya dengan seluruh detak jantungku.

Lying close to you feeling your heart beating 
And I’m wondering what you’re dreaming 
Wondering if it’s me you’re seeing 

Aku sedikit tersenyum, kembali mengingat saat aku berbaring di sisinya untuk yang terakhir kalinya, sebelum perpisahan kami, sebelum segalanya menjadi rumit, mendengarkan detak jantungnya saat matanya terpejam, mencoba mengingat kemarahannya yang begitu cantik. Aku ingin mengerti dirinya, karena aku mencintainya, bahkan aku merasa cemburu dengan mimpinya, aku merasa cemburu dengan apa dan siapa yang diimpikannya.

Then I kiss your eyes and thank God we’re together 
And I just wanna stay with you 
In this moment forever, forever and ever 

Aku mengalihkan tatapanku sejenak, dia tak pernah tahu aku menciumnya diam-diam saat dia tertidur. Menciumnya tepat diantara kedua matanya, aku tak cukup berani untuk mencium bibirnya, walau saat dia terbangun aku bertingkah seperti bajingan, mencuri ciuman darinya di meja makan, menciumnya dan mengatainya wanita murahan karena amarahku yang bodoh. Aku tak mampu berbuat apapun saat melihat sosok Sooyoung tertidur di hadapanku, aku hanya berani menyentuhnya perlahan, tak ingin membangunkannya, tak ingin mengganggu tidurnya. Aku ingin selamanya berlalu seperti itu.

i don’t wanna miss one smile 
I don’t wanna miss one kiss 
Well, I just wanna be with you 
Right here with you, just like this 

Selamanya.

Aku tersenyum ke arah semua orang, kecuali Sooyoung, Aku memandang ke matanya sekali lagi dan aku mengangis……

I just wanna hold you close 
Feel your heart so close to mine 
And stay here in this moment 
For all the rest of time

Aku mengakhirinya Aku berhenti memetik gitar dan aku mendengar dentum bass Ian turut berhenti. Aku mencoba mengatur ekspresi wajahku yang terlihat begitu menyedihkan. Sekali lagi aku meyakinkan hatiku, ini adalah akhir, dan setelah ini aku harus mampu menghadapi kenyataan. Untuk mengawalinya aku mencoba mengucapkan selamat tinggal cinta pada hatiku. Selamat tinggal Sooyoung. Itu hadiah terakhir untukmu. ” Selamat. Selamat semoga kalian bahagia. Selamat atas pernikahan kalian.” Ujarku sebelum tersenyum dengan setulus hati pada Sooyoung.

*******************

Sooyoung POV-

Aku membeku saat Siwon mulai menyanyikan lirik dari Aerosmith. Dia memetik gitarnya perlahan, menghayati segalanya dengan desah napasnya. Aku merasakan desir aneh dalam hatiku ketikan mendengar alunan arpeggio yang menaik saat dia mulai menyanyikan lirik untuk memuja kekasihnya. Dia menatapku saat membuka matanya, dia menatap tepat di mataku. Aku bisa merasakan bahasa tak terucap dari hatinya, getaran yang dirasakan secara naluriah, entah dengan cara apa aku tahu bahwa lagu itu ditunjukkan untukku.

Bait demi bait lirik terucap dengan begitu lembut, penuh perasaan, dan kepedihan. Aku bisa merasakan Changmin tersenyum perlahan ke arah panggung. Aku tak beralih sedetikpun, tak ingin memutus mantra yang telah dirajut Siwon untuk membuatku hanyut dalam kenangan kami, kenangan yang hanya kami miliki bersama. Dia mulai menaikkan nada suaranya dan masuk ke dalam hentakan drum yang membuat perasaan penuh cinta itu diwarnai dengan frustasi lirih. Dia sedikit memalingkan wajahnya dan tersenyum saat bercerita tentang hari-hari dimana dia bersama kekasihnya, bersamaku, tidur dan mencium mataku. Tanpa sadar aku mulai menitikan air mataku. Aku merasakan kepedihan Siwon, merasakan dia juga menderita dengan perpisahan kami, aku tak bisa berbuat apa-apa selain memperburuk keadaan. Jika aku bisa meminta Tuhan memutar waktu, jika saja aku tak menerima tawaran Changmin, tapi penyesalan tak ada gunanya.

Musik berakhir. Siwon terlihat begitu berantakan dengan wajah penuh air mata. Dia mulai mengetuk pelan microphone di hadapannya, mencoba berucap sesuatu. Dan kata itu terucap dari mulutnya.

” Selamat. Selamat semoga kalian bahagia. Selamat atas pernikahan kalian.”

Selamat? Selamat? Ya Tuhan.

Aku menangis dalam diam, aku tak peduli lagi dengan tatapan ingin tahu yang diarahkan pada kami. Aku mencintainya, aku mencintai Choi Siwon. Seorang tetuah dari keluarga kami yang selalu aku panggil dengan Bibi Emily menepuk pundakku pelan dan berkata. ” Kau pasti sangat terharu? Aku bisa mengerti perasaanmu. Kadang  jika terlalu gembira dengan sesuatu orang tak bisa mengontrol emosinya.”

Aku menatapnya dan tersenyum kaku, aku tak ingin menyangkal wanita tua itu. Aku menangis karena sedih bukan gembira. Dan bertepatan saat itu sebuah iring-iringan dari empat gadis membawa keranjang bunga ivy menuju ke arahku, mereka ditarik oleh seorang wanita berpenampilan menarik yang kemudian menyanyikan lagu iring-iringan untuk menyambut kabar pernikahan. Mereka bertepuk diikuti semua tamu menyanyikan lagu khas Inggris yang ditujukan untuk calon pengantin, mereka mengalungkan sebuah selendang sutra ke leherku dan menaburkan petal bunga ivy ke arahku. Aku menutup mulutku dan menangis semakin keras, tapi mereka semakin gembira karena menyangka tangisanku karena terharu. Aku memandang ke arah panggung, dan Choi Siwon menghilang. Tuhan, apa yang harus aku lakukan…..

***************

Author POV-

Yoona tertawa puas. Dia menelengkan kepalanya ke arah Yunho yang ada di sampingnya. ” Wow! Aku tak menyangka Choi Siwon bisa menyanyi.” Ujarnya seraya menyelipkan ikal rambutnya ke belakang telinga. ” Ya Tuhan, Ini …” Yoona terlihat bingung memilih kata sebelum meledak tertawa. ” Ya Tuhan, bagaimana aku bisa tertawa di saat seperti ini. Tapi…Tapi…” Yoona kembali tertawa hingga Yunho tersenyum lucu ke arahnya.

” Jangan terlalu banyak tertawa, lass. Kau tak akan pernah tahu apa rencana Tuhan.” Jawab Yunho dengan penuh arti.

Yoona berhenti tertawa saat melirik Yunho. ” Apa maksudmu?”

Yunho bergidik perlahan. ” Aku masih merasa ada sesuatu yang aneh dengan Changmin. Entah, tapi aku merasa dia tak bercanda dengan perasaannya.”

Yoona membeku, dia menaikkan sebelah alisnya, matanya menyipit penuh spekulasi ke arah Changmin yang terdiam di tempatnya, memandangi Sooyoung yang sedang menangis di tengah kerumunan. ” Dia pasti tak akan berani …..”

” Oh, dia pasti berani.” Sangkal Yunho. ” Ada sesuatu dalam dirinya yang mengingatkanku dengan Siwon di masa lalu. ” Lanjutnya saat menatap Changmin yang menuju ke arahnya. ” Dan aku tahu dia merencanakan hal lain yang tak terduga.”

Yoona mengikuti tatapan Yunho. Changmin ada di sana, berdiri dengan santai dan menyapa mereka perlahan.

” Pertunjukan yang menarik. Well, walau hanya sandiwara.” Ujar Yoona saat Changmin menempatkan dirinya di kursi yang tadi ditempati tamu yang sedang turut serta mengerumuni Sooyoung.

Changmin bergidik pelan. Dia menatap ke arah Yunho sebelum memberi senyum pada Yoona. ” Sandiwara?” ulangnya dengan nada mengejek. Dia memincingkan alisnya dengan sempurna, bersandar pada kursi itu dengan posisi santai. ” Aku harus mengecewakanmu, Yong. Tapi aku sama sekali tak bercanda.”

Yoona membeku di tempatnya. Dia melirik Yunho yang masih tak menunjukkan ekspresinya. ” Apa maksudmu? Kita sudah sepakat!” Geram Yoona.

” Kita tak pernah menyepakati apapun, Yong.”

Yoona menggeram menahan kejengkelannya, dia melirik kecil pada Yunho yang mencoba membaca ke dalam hati Changmin. “ Tapi aku memintamu hanya berpura-pura melakukan semua itu.” Tegas Yoona.

Changmin tertawa lirih. “Aku hidup dengan caraku sendiri, Yong. Aku tak melakukan sesuatu karena orang memintaku. Just for the record.“

Mata Yoona membelalak kaget mendengar jawaban Changmin. Dia beralih pada Yunho yang terlihat berpikir di sampingnya, dia memandang ke arah cangkir teh seolah tak pernah melihat cangkir berukir bunga krisan itu seumur hidupnya.

Yunho berdehem perlahan sebelum menatap pada Changmin. “ Lalu apa maumu sebenarnya?” ujar Yunho dengan suara berat.

” Sooyoung. Dirinya. Kebahagiannya.”

Yunho kembali berpikir. “ Benarkah?”

Changmin memberi tatapan menantang pada Yunho. “Bagaimana menurutmu?” tantang Changmin. ” Sooyoung pantas dicintai lebih dari itu, Siwon sudah diberi kesempatan oleh Tuhan selama empat tahun terakhir, dan dia menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia merencanakan menikahi Sooyoung, memandang terlalu ke depan dan mengesampingkan urusan itu menjadi urusan kedua ketiga atau yang lain selain yang utama, tanpa sadar dia semakin membuat dirinya menjauh dengan wanita yang dicintainya. Dia memandang terlalu jauh ke depan hingga tak sadar bahwa waktu semakin menjauhkan dia dari tujuannya, aku sungguh menyesal dengan hal itu, tapi aku tak bisa memberi lebih selain simpati. Itu adalah kesalahan yang dibuat Siwon dengan sadar, dan saat ini adalah kesempatan bagiku untuk mendapatkan Sooyoung. Karena aku sadar, cinta dan hidup adalah saat ini, bukan esok atau lusa. Jadi katakan, dimana letak kesalahanku? Aku bukan orang bijak yang mau berkorban untuk melihat orang yang kucintai bahagia dengan orang lain, saat aku sendiri tahu aku mampu melakukannya, aku bukan martir, kalau kalian belum tahu.”

Yoona mengumpat pelan, dia merasa kesal karena membenarkan pernyataan Changmin. Yunho sebaliknya dia mendesah tenang, wajahnya terlihat berkerut tak setuju saat memandang ke arah Changmin. ” Tapi, bukankah kau menghakimi Siwon. Kau hanya melihat dari sisi Sooyoung, tanpa mempertimbangkan alasan Siwon sebenarnya. Semua hal di dunia ini memiliki luka yang tak terlihat Changmin. Bukankah di saat seperti ini lebih bijak jika menjadi orang baik dibanding dengan orang yang benar?”

Changmin tertawa lirih. Dia menatap Yunho tepat di mata. ” Aku mengerti. Tapi ini adalah saat yang tepat bagiku. Aku punya pilihan Yunho, menjadi Snape yang terus menanti Lily dalam hidupnya, atau menjadi James yang memenangkan hati Lily.”

Mendengar analogi Changmin membuat Yunho tertawa pelan, yang membuatnya mendapat sikutan marah dari Yoona. ” Jika itu maumu, aku tak memiliki hak untuk melarangmu melakukan sesuatu yang kau inginkan. Kau memiliki hak untuk mendapatkan hati adikku. Tapi, apa kau sudah siap untuk menghadapi kemungkinan bahwa kau tak akan pernah menjadi pria yang dicintainya?”

Changmin akan menjawab. Tapi Yoona memotong ucapannya dengan makian. “Kau memaksakan cintamu padanya. Dia mencintai Siwon, dan kau berusaha memaksakan cintamu padanya? “

” Benarkah? Aku bukan orang bijak , Yong, tapi aku bukan pengecut…”

“Tapi kau menempatkan mereka pada posisi yang sulit, bagaimana Sooyoung atau Siwon bisa melakukan itu di depan  banyak orang yang yakin kau dan Sooyoung saling jatuh cinta, dia memiliki hormat pada ibu Sooyoung,  dan Sooyoung terlalu baik untuk berteriak ‘well changmin aku rasa kau mulai bermimpi, kita hanya berpura-pura bermain Ken dan Barbie yang bertunangan’ di depan semua orang.” Sahut Yoona tanpa ampun.

Changmin cukup tahu tak ada gunanya berdebat dengan wanita yang sedang marah, mereka cenderung menginginkan apa yang ingin mereka dengar, dibanding apa yang benar. Changmin tersenyum tanpa memberi jawaban pada Yoona. Dia berdiri dan menatap ke arah pasangan bahagia di hadapannya. ” Aku tak ingin menjelaskan sesuatu yang sudah jelas.” Ujarnya sebelum berlalu kembali ke arah kerumunan yang mengelilingi Sooyoung.

” Sial…… Ya Tuhan, ada apa dengan semua lelaki di dunia ini. Yang satu cukup pengecut untuk menghantam bogem mentahnya dan memperjuangkan cintanya, dan yang lain terlalu….ough!” Geram Yoona Dia meremas ujung gaunnya dengan sebal saat menghujam Yunho dengan kernyitan tak setuju. “Lakukan sesuatu, Oppa. Katakan pada Siwon yang sebenarnya… kau..”

Yunho tersenyum sabar pada Yoona, senyum yang jarang terlihat di wajah jahilnya. ” Aku tahu perasaanmu, Yong. Tapi aku tak memiliki hak untuk melakukan itu. Bukan berarti karena aku mampu, maka aku harus melakukannya.”

“Siwon dan Sooyoung memiliki hidup mereka sendiri. Jika mereka saling mencintai, maka halangan ini tak akan cukup sulit untuk mereka lalui. Mereka harus menemukan keberanian dan kelapangan dalam hati mereka, untuk menerima sakit, malu, dan menanggung resiko yang diakibatkan cinta. Di dunia ini tak pernah ada kebetulan, Yong. Setiap waktu yang kita habiskan, setiap orang yang kita temui memiliki peranan dalam hidup kita. Besar maupun kecil. Beberapa diantara mereka datang untuk menyakiti kita, membuat kita menangis, tapi mereka juga akan membuat kita lebih kuat. Sementara yang lain datang untuk mengajarkan kita, bukan untuk merubah kita, hanya untuk membuat kita menjadi manusia lebih baik. Beberapa ada yang memberi kita kebahagiaan dengan ketulusan mereka mencintai. Changmin, Siwon, dan Sooyoung mungkin ada dalam salah satu persimpangan pertemuan takdir. Siapapun yang menang, mereka cukup pantas bersanding karena usaha dan keberanian mereka, dan yang kalah cukup bersabar untuk melihat yang lain tertawa. Apa kau mengerti? Aku hanya ingin memberi kesempatan pada adikku untuk memperjuangkan cintanya, dia mencintai Siwon, tapi apa itu cukup?”

Yoona terdiam. Karena dia tahu sekali lagi Yunho benar. Fakta yang tak ingin dibenarkannya, tapi tetap, kebenaran selalu menunjukkan taring yang tak mampu dilawan. ” Tidak, itu tidak cukup.” Jawabnya pelan.

****************

Hythe, Hampshire, 2012 10:01 p.m.

Sudah dua jam sejak Changmin meninggalkan kamarnya. Lelaki itu memenuhi janjinya untuk meyakinkan Sooyoung. Tapi bukan mengerti, Sooyoung merasa semakin bimbang. Sooyoung mencoba memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, saat ini dia membutuhkan mengistirahatkan dirinya dari hari yang begitu berat. Dia hampir lupa cara bernapas karena segalanya datang dan pergi seperti express, dia masih mencoba untuk menentukan pijakan saat Siwon mengungkapkan pengakuannya di hutan, lalu pengakuan Changmin datang, membuatnya menuju pijakan lain, lalu lagu sendu dari Siwon dan ucapan selamat darinya. Jika Sooyoung bisa menggambarkan hatinya, tak lebih seperti butiran debu yang terbawa angin, tak memiliki tujuan, terombang ambing tanpa keinginan.

Sooyoung mencoba memejamkan matanya sekali lagi, saat pintu kamarnya terbuka. Dia mengira tamu tak diundang itu adalah Changmin melihat dari postur tubuh yang tertutup temaram lampu dari kamar Sooyoung. Lelaki itu mendekat ke arahnya. Begitu pelan hingga Sooyoung yakin dia tak menapakkan kakinya di lantai. ” Soo?” ujar lelaki itu tertahan.

Sooyoung segera bangkit dari tidurnya dan memandang tepat ke wajah lelaki itu. Dia berdiri di sana, wajahnya terlihat begitu berantakan. Ada aura murung yang menggelapkan wajahnya. Dagunya yang mulus mulai ditumbuhi jambang halus.

” Oppa….”

Siwon tersenyum ke arah Sooyoung sebelum menempatkan dirinya di samping Sooyoung. ” Bolehkah aku mengakui sesuatu?” Siwon menatap wajah Sooyoung, ada kepedihan berkelebat di mata wanita itu. “Maaf, aku sudah berjanji dalam hati saat mengucapkan selamat padamu, jika itu adalah akhir penyerahanku. Tapi, bisakah kau mendengarku, alasanku… “

Siwon terdiam sejenak. ” Aku tak ingin mengubah apapun, Soo. Aku hanya ingin kau tahu. Aku sudah …sudah..menyerah…” Siwon menelan gumpalan pahit itu saat mengakui penyerahannya. “Aku hanya tak yakin akan mampu menghadapimu dengan wajar jika aku masih menyimpannya dalam hati. Aku ingin mengakhiri segalanya, Soo. Memulai lagi dari awal, membayar semua luka yang aku timbulkan pada hatimu. Aku….”

“Katakan!” Sooyoung membalas tatapan Siwon. ” Apa alasanmu, katakan, Oppa?” ujar Sooyoung dengan nada parau.

Siwon terdiam sejenak sebelum menarik napasnya. Dia memandang ke arah keremangan yang ditimbulkan oleh siluet cahaya dari lorong yang masuk melalui celah pintu kamar Sooyoung yang terbuka. “Appaku. Dia sekarat saat Eomma menyuruhku kembali ke Korea empat tahun lalu. Lelaki tua yang hanya hidup dalam kenanganku selama berpuluh-puluh tahun, akhirnya aku bisa kembali menemuinya setelah sekian lama. Dia tak lagi sesehat dulu, tak lagi tersenyum padaku dengan tongkat baseball di tangannya. Dia hanya lelaki tua yang sedang terbaring di ujung hidupnya. “

“Aku hanya terpaku saat memandang semua alat penyangga kehidupan itu di sekujur tubuhnya, penyakitnya memang memakan tubuhnya, tapi bukan ingatannya. Dia terbangun hanya untuk menangis menatapku. Aku melihat rasa bersalah terpancar di matanya, aku tahu dia merasa bersalah karena tak membesarkanku dengan tangannya sendiri, alih-alih meninggalkanku di tangan sahabatnya. Dia menyebut namaku berkali-kali, aku ingat tangannya berusaha digerakkan untuk menyentuhku, tapi aku hanya terpaku di hadapannya dalam diam. Aku masih marah padanya, karena meninggalkanku di Inggris, aku masih marah padanya karena dia meninggalkanku untuk tinggal bersama orang lain dan bukan dirinya. Aku marah karena dia tak memenuhi tugasnya sebagai seorang ayah. Lalu dia meminta maaf padaku dengan suara pelan. Ingatan tentang waktu singkat kami tiba-tiba meluncur dalam gambaran hidupku, walau sebentar, kami pernah menjadi ayah dan anak….”

Siwon menatap Sooyoung. ” Aku mengambil alih segalanya, perusahaan yang hampir jatuh, dua orang saudara yang tak pernah aku kenal. Mereka cukup menyusahkanku di awal, aku melupakan segalanya, tidur, makan, bahkan aku hampir melupakan cara bernapas dengan semua tanggung jawab yang tiba tiba aku pikul di pundakku. Aku merasa sesak dengan kehidupan, pikiranku kacau tiap detiknya. Tapi aku tak pernah melupakanmu, Soo.”

” Setiap detik aku memikirkanmu, aku selalu tersiksa saat berada di dekat telepon atau saat membaca suratmu, aku ingin membalasmu, Soo. Tapi aku tahu, jika mendengar suaramu, aku akan runtuh, aku harus bertahan di sana untuk beberapa saat, hingga semua keadaan kembali membaik. Aku merindukan suaramu, tawamu, kilat matamu saat kau marah, tapi aku harus menahan kerinduanku dengan kenangan kita, aku bertahan hingga aku lupa aku menyiksamu. Sebulan lalu saat undangan pernikahan Yunho datang, aku sedang berada di rumah sakit, ayahku sekali lagi terbangun dari tidurnya, dia menyuruhku untuk menjemput musim gugurku.”

” Lelaki tua itu mulai terdengar menjengkelkan dengan gurauannya yang sudah lama tak kudengar, aku menceritakan tentangmu. Tentang cintaku padamu, tentang kebodohanku, saat itu aku sadar aku sudah bercerita terlalu banyak, dan menghancurkan tembok pemisah diantara kami.”

” Pada akhirnya, disinilah aku, Soo. Mencoba menjemput musim gugurku, menjemput cinta pertamaku. Tapi, bukankah aku sudah terlambat?”

Siwon berhenti sesaat, mencoba mencari pembenaran di wajah Sooyoung. Seandainya Siwon tahu, Sooyoung sedang menahan tangisnya agar tidak pecah. Seandainya dia tahu….

” Kau benar, aku adalah bajingan egois yang membuatmu tersiksa dalam penantian. Aku tahu alasan apapun untuk menjelaskan segalanya tak sebanding dengan rasa sakit yang aku timbulkan dalam harimu, seperti katamu, penantian adalah penantian, dan aku telah melanggar kode etik cinta yang paling dasar, aku menyakiti orang yang kucintai, dan aku tahu aku tak pantas mendapatkanmu. Aku tahu kau tak akan lelah mencintaiku, tapi aku lupa bahwa kau bisa lelah menunggu. Maaf, aku tak bermaksud apapun, Soo. Aku hanya ingin kau mengetahui segalanya, aku tak bermaksud merubahmu, membuatmu bimbang, kau sudah memilihnya, dan Changmin adalah orang yang pantas mendapatkanmu. Aku hanya….Aku hanya…”

Siwon kembali membuang mukanya, dia merasa malu pada dirinya sendiri. ” Maaf, aku tahu, penjelasanku tak akan mampu meringankan kepedihanmu saat menungguku, tak mampu merubah rasa sakit. Ini tak seberapa dibanding dengan rasa sakitmu. Aku tahu.” Siwon akan beranjak dari tempatnya saat Sooyoung menghentikannya.

“Bagaimana? Bagaimana bisa melakukan itu? Apa kau sedang membandingkan rasa sakit kita? Rasa sakitmu karena kau harus memikul bebanmu dan rasa sakitku karena menantimu? Apa kau mencoba membandingkannya, dan mengagap kalau penderitaanmu tak lebih besar dari penderitaanku?” Sooyoung bangkit dari duduknya, ada air mata di pipinya, tapi dia lebih merasa frustasi dibanding dengan sedih. ” Omong kosong apa itu Choi Siwon. “

“Soo…”

” Kau bilang kau mau menyerah? Kau bilang kau akan melupakanku dan membayar rasa sakit yang kau berikan padaku? Kau tahu apa yang kuinginkan? Aku menginginkan kau memperjuangkanku, mulanya….iya awalnya, tapi saat ini, aku hanya ingin kau memafkan dirimu sendiri Oppa. Kau bodoh, kau tahu? Dan aku tak lebih pintar darimu.” Sooyoung terdiam. Siwon sudah menyerah. Dan dia mengharapkan apa yang diinginkannya, permintaan maaf dari Siwon, penyesalan darinya, tapi saat ini Sooyoung malah merasa seperti pelacur egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Siwon memiliki alasan, dan egonya menolak untuk mendengar sebelum ini. Semuanya menjadi semakin rumit, bukan salah siapapun, hanya dirinya.

Kepedihan tetaplah kepedihan. Hanya karena masalah seseorang tak lebih traumatis dibanding dengan yang lain, maka bukan berarti orang itu tak akan lebih tersakiti. Siwon memiliki perihnya sendiri, begitu juga Sooyoung. Mereka memiliki alasan untuk hanyut dalam kepedihan dan keegoisan mereka, sama seperti mereka memiliki hak untuk memaafkan atau membenci satu sama lain. Keegoisan dan hasrat dari penantian membuat mereka menyakiti diri mereka sendiri.

Sooyoung menarik napas perlahan. Dia memandang tepat ke mata Siwon. ” Aku ..aku seharusnya yang meminta maaf padamu, Oppa. Aku …” Sooyoung tertawa getir.  ” Tak ada yang berubah? Ah, aku tahu, tak akan ada yang berubah. Aku tetap akan menikahi Changmin?” Sooyoung mencoba bertanya, bukan untuk menegaskan sesuatu, tapi lebih pada meyakinkan dirinya sendiri. Siwon sudah menyerah dan itu karena dirinya sendiri, bukankah Sooyoung terlihat sangat egois jika dia menyuruh Siwon memperjuangkannya. Dan Changmin….

“Apa artinya, kau memaafkanku? Kita mulai dari awal lagi?”

Sooyoung menggigit bibir bawahnya. Dia mengagguk pelan. “Sebagai teman.” Tegasnya. ” Sebagai sahabat lama….”

Siwon mendekat selangkah lebih dekat ke tubuh Sooyoung. ” Terimakasih. Terimakasih Choi Sooyoung.”

Sooyoung mengangguk lirih. ” Sama-sama Choi Siwon.” Jawabnya sebelum memeluk lelaki itu dengan erat. Sooyoung menjatuhkan dirinya ke dada Siwon dengan keras. Ini akhir bagi mereka, akhir cinta mereka…..

***************

-TBC-

Wow panjang aneh dan membosankan, hahahha, ini saya nyoba gak hanya pake Author POV- karena emang ingin menegaskan pikiran Siwon dan Sooyoung. Kebanyakan dari pembaca membenci Siwon karena Chap sebelumnya.

Saya hanya ingin menegaskan loh, seperti J.A. Redmeski yang mengatakan bahwa kita gak boleh membandingkan perasaan pedih kita dengan yang lain, karena perih teteaplah perih. Kita gak boleh meremehkan masalah orang lain walau masalah yang diderita bukan masalah yang oh traumatis :D, ok, ya sudah, ini mengecewakan karena selain gak jadi ending (sumpah rundownya masih ada 16 pokok pengembangan) bakal lebih panjang, saya mulai deh penyakit paparan dan kurang percakapan, saya mohon maaf ya, tahu sih beberapa reader kurang suka dengan gaya ini, tapi inilah saya hehehhe,

Masalah Taypo dll saya minta maaf sekali, dan izinkan saya riset beberapa saat masalah pernikahan desa yaaaa, biar hidup, maaf kalo banyak cincong dan lanjutanya lama, byeeeee …

Advertisements

44 thoughts on “[FF] Autumn In Hampshire – C.3 – [Pre-END 2]

  1. Akhirnya adaya post juga yeaaahhh *nari igab bareng soo unnie*
    Engga papa kok adaya walaupun engga jadi ending di chap ini aku malah suka karena disini dijelasin alesan siwon oppa yg buat soo unnie nunggu selama 4 tahun terus alesan changmin oppa yg tiba2 ngelakuin itu sama pendapat yunho oppa dan yoona mengenai perkembangan hubungan changsoowon ini..
    Well aku malah suka kalo gaya penulisannya lebih deskriptif entah kenapa kayaknya kalo kaya gitu jadi bisa bikin gampang terbawa suasananya…
    Adaya fighting !!

  2. akhirnya stlah berabad'(?) menunggu akhirnya muncul jga..
    kurang prcakapan iya, kcwa mungkin iya ga sesuai harapan #huwaaakh# jd siapa ya harus d slhkan smpet rada marah bimbang jga knpa takdir harus mempermainkan mereka ampe sgtunya, trlalunyesek d hati, trharu+bikin nangis jga wktu siwon menjelaskan alasannya dia, rasanya kaya brasa jd mereka, salut bwt yg bikinnya..hee
    end~nya smga bijaksana..mari kita menunggu part endnya

  3. akhirnya keluar ~
    betewe ini tiwi yg kece itu eon xP
    inget kan kan kan??

    oke, asli bagian pas Siwon nyanyi itu kea nyesek banget cius dah ~
    eh tapi biar deh, biar tau rasa juga itu si Siwon haha
    #evillaugh

    endingnya bukan SooWon??
    hoho
    saia suka xP
    #lho?

    cius dah ~
    saia dari awal kan emang kepengen endingnya ChangSoo kan :))
    #nobash

    emm mau komen apa lagi ini?? bingung eon ~
    pokoke saia nunggu part ending biar clear semuanya okey ^^
    pai pai :*

  4. hikss,,,hikss,,sediiiiiiiiiiiiiih,,
    moga aj soo tetep ma won oppa, g rela klo soo ma min oppa,,
    gpp kug thor klo panjang kan jadinya makin jelas,,hehehehe
    ditunggu part selanjutnya moga aja eppy ending,,

  5. ksian soo unnie ma Siwon oppa….
    changmin oppa pun sbnarnya gag slah…
    ksian mreka bertiga yg trjevak dlam hub kya gni…
    klu smpai nikah, ksian ming oppa, krna cinta soo unnie hnya buat won oppa…

    pkknya smangat deh buat adaya unnie…
    smangat nulis biar cepat slesai… gag sbar nunggunya….:)

  6. Karna aku ng’a tau lagu apa yg di nyanyiin Siwon oppa jadi aku dengerin lagu nya One Direction yg More Than This . Waktu aku baca ini aku jdi nangis pas bagian Siwon oppa nyanyi , bagian itu cocok banget sma lagu nya One Direction itu . Ng’a tau kenapa pas bagian Siwon oppa tatap matanya Soo unnie pasti bagian kata2 di lagu “Coz i can’t love u more than this” .

    Jadi ikutan sedih , semoga SooWon ng’a pisah !!

  7. thank you kak …
    karena kaka’ sudah berhasil membuat ku menangis yg sebelumnya emg pingin nangis tpi malu krna gg ada aLasan buat nangis ,, pie stelah baca ini aku skrg ngerti knapa kok aq tba” bimbang …
    maaf kak muLai curcol …
    tapi aku bangga punya prasaan seperti ini ,, yg dari awaL bisa merasakan sebelum itu terjadi … My feel is the best … *ngerti gak maksud ku??
    nie crita hampir sama kayak yg aku aLami ,, cma masaLah.a ,, aq yg brada d posisi Siwon …
    jadi baca ini kyak bernostaLgia lagi dan mmbuat ak nyesek …
    aq isa ngrasaain bagaimana di posisi Siwon ,, sakit ,, banget ,, bahkan aku hampir gg isa mikir apa” sLain dia gg boLeh jadi miLik org Lain kcuaLi aq ,, hingga akhirnya tetep aja aku yg kaLah ,, karna setiap kita berusaha msti org itu yg diposisikan changmin selalu mempunyai alasan yg tepat dn mmbuat kita akhr.a kaLah …
    it’s bad ,, so bad for us … *usap ingus
    dan kak ,, ku harap jangan marah ,, dari semua FF kakak aku paling suka yg ini ,, dan kakak psti isa nebak kan kenapa ???
    ok kak ,, aku muLai kepanjangan ,, jadi kayak curhat geje …

    This ff is very best ,, and about this FF ,, I can’t to stop Loving him …
    [bngung antara nangis ma senyum, pie senyum ajj Lah buat kaka’] d(^_^* )

  8. Part ini bnyk bgt kata2 bijaknya..
    Jd ikutan sedih jg..
    Bagian akhirnya bikin nyesek (˘̩̩.˘̩ƪ)
    Aku tnggu lnjutannya kak^^
    Keren sekali(y)

  9. uauauaaaaaa eonni sedih banget chap ini sumpah.. argh.. update soon ya eon.. bener bener penasaran bgt, rumit sekali changminnya yaallah.. siwon kasian 😦 update soon!!

  10. author.
    Kenapa thor…
    Yah.. Thor balikin soowon-nya thor..
    Balikin.
    Soowon ini penuh dengan ego sama gengsi..
    Jadi gitu kan akhirnya..

  11. Hoo ~ Ternyata makin rumit kisah mereka 😦
    part ini sungguh dramatis,menguras emosi dan air mata!
    Feelnya Dapet banget unnie ~ 😦
    Disini Changmin kaya pemeran antagonis di sinetron-sinetron yang menghalalkan banyak cara untuk memisahkan 2 sejoli yang saling mencintai ~ 😦 Tapi aku suka loh karakter Changmin disini 🙂 Changminnya lebih dibanyakin lagi unnie.Kurang menurutku 😦
    Typo ga ada sih unnie dan catatan kakinya sangat membantu 🙂
    Unnie aku tunggu part selanjutnya.Fightingg~!! 🙂

  12. mungkin krn aku yg terlalu bodoh dlm tata bhs indonesia jd aku hrs bca brulng” utk memhmi stiap paparannya.

    semangat wat next partnya.
    gomawo

  13. Hahahaha AIH oh AIH
    Part ini sedikit membuat otak aku muter mikir kelanjutannya mw gmana, stlah ff adaya sblum.a(NOY) membuat hatiku tercabik-cabik.
    Ada sdkit taypo sikh, tp aku suka dngan perdebatan tiap tokoh semua.a benar mnrt sudut pandang tertentu 😀
    Adaya oennie cpet lnjt + yg proyek twoshoot jga..

  14. unnie,ini sedih banget…..
    knapa siwon nyerah gitu sih! aku gak rela….
    jangan buat sad ending ya, frustasi aku bacanya eon….
    eon, brapa chapter lagi endingnya??
    oya, jangan kelamaan terbitinnya eon…
    fighting!!!

  15. Akhirnya keluar juga nih ff
    daebak nih author adaya
    sempet deg degan juga bacanya padahal baru pre-end
    sedih deh sama sikap siwon yang akhirnya beneran mutusin buat nyerah tapi sooyoung malah ga berusaha buat memperjuangin cintanya padahal siwon udah buka bukaan ngungkapin alasan yang jelas
    jadi makin gereget sama sikap soowon dan ga sabar buat baca endingnya
    ditunggu ya thor kelanjutannya :))

  16. Horeeee akhir’a ada postingan jga 😀
    Part ini lumanyan membingungkan harus benar2 konsentrasi baca’a.. Tapi penggambaran’a benar2 serasa nyata.. Kerennnn

  17. Maaf ya telat commet
    apakah SooWon akan bersatu ? Aku hampir nangis tadi khis. . . Kan mereka itu saling mencintai knp mereka melakukan ini !! Lanjut thor !! Fighting

  18. kasihan bnget ya soowon….harus pisah gitu T_T
    Changmin oppa jgn egois dong…biarin mereka bahagia….
    cinta kan nggak bisa dipaksaain….kan jadinya nanti semuanay malah tersakiti…
    chingu…daebak lohhh udah bikin chpt sampe sini…salut lohh sama kamu..:D

    • Adaya eoni annyeong 😀
      seneng deh akhirnya lanjutannya di post
      sebelumnya maaf nih karena commennta telat, maklum baru sempet 🙂
      Eoni sebelum aku baca ff ini aku baca commentnya dulu dan well commentnya pada gak rela 🙂
      Aku juga sih eon, kasihan banget siwon oppa sama sooyoung eoni kalo mereka gak bisa sama-sama 😦
      Eoni aku suka cara eoni memaparkan ceritanya 🙂
      setuju eon.. kita nggak boleh memandang masalah dari satu sisi aja 🙂

  19. kenapa begitu kejam?.
    kenapa harus changsoo?
    kenapa bukan Soowon?
    nangis di pojokan.
    tpi masih tbc, so masih berharap soowon bisa bersatu….

    chungu ff mu telah mencetar membahanakan hatiku. jadi campur aduk. *nyesek*
    daebak.

  20. Endingnya tetap SooWon kan Athor? Happy Ending kan?
    Aduh2 Changminoppa gk seharusnya memaksakan perasaannya sama Sooeonnie.
    Ternyata karna itu Wonoppa membiarkan Sooennie nunggu 4tahun tanpa kabar 😦 terenyuh sama nyanyian Wonoppa T_T hiks
    Ditunggu part endingnya Author, Semangat!!!

  21. sumpahhhh keren bgt pembahasaan’a, perumpaan’a segi penulisan jga daebaaaakkkkk…keren kerennnnn thor berhasil masukin emosi di cerita ini..aq yg baca sampai geter2 ga trima siwon nyerah gtu aja k’soo…
    apalg pas km masukin bagian cerita ttg cinta segita’a snape, james potter dan lily potter d’dialog’a changmin pas ngmong sma yunho, aq langsung senyum2 taukkk dan yakin km nulis FF ini bener2 dri hati jga pikiran yg hasilnya ceritamu bner2 bagus bkin emosi pembaca meledak-ledak (harus coba bikin novel nie 😀 )
    konfliknya juga bener2 dapet dan susah di tebak…
    sipp terus berkarya yaaa… 😀

    NB: sooyoung ttp ma siwon kan??bukan sma changmin?? mereka harus perjuangin cintanya, jgn nyerah gtu ajaaa hehehe

  22. sedih saat membaca part yang ini. sumpah the. membayangkannnya saja aku sudah tidak sangup. apalagi harus menjalaninya.
    changmin oppa knapa bisa berubah menjadi seolah terobsesi dengan soo eonnie sih? kan awalnya cuma main-main.
    lanjutttttt!!!!!!!!!!!!!! di baca dulu…..

  23. What the…? Hell-_- Aaaaaa bikin baca note author kalo endingnya mengecewakan. Pasti sad? Aku gaakan maafin author-_- Aaaa rumit bangeeet, tapi author bisa pake bahasa novel gitu gimana sih?._.

  24. nyesekkk ,,
    please thor endingnya soowon dong ,,
    kan gx 100% semua salah siwon ,,
    dan mereka berdua saling mencintai ..
    next next !!!

  25. Berusaha utk tidak nyesek.. ternyata makin ke part selanjutnya makin nyesek dan nangis…….. 😥 .authornya daebak…. bisa ngacak2 perasaan readernya dengan kata perkata.. ><
    Mian thor baru komen di chapter ini.. coz.. biar ga menghilangkan ke khusyuk an pd saat chap sblmnya 😥

  26. Ige mwoya? Knp soo malah mau married sm changmiiiiiin #grrr..
    Ah cho siwon kau tdk boleh menyerah. Menyerah itu klo soo tdk mencintaimu. Klo kalian sm2 cinta menurutku sih fine2 aja klo kamu terus2an ngejar soo.
    Jd rumit gini ya.. Siwon dan soo sm2 tersiksa ketika mereka berpisah. Sm2 merasa sakit. Lalu kini ketika mereka bs bertemu, mengapa mereka tdk bs bersatu…
    Feelnya daeeeebak bgt!
    Ah.. Jd makin seruuuu
    aku lanjut ya…
    Ff nya keren!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s