[ FF ] Autumn In Hampshire – B .2-

Annyeong eh maaf balik lagi neh Adaya heheheh …

Maaf ya jangan bosen 🙂

Happy Reading ….

9

Title              : Autumn In Hampshire

Author          : Adaya Muminah Aljabar ( oe09@live.com )

Main Cast     : Choi Sooyoung–> hemself (23 thn ) , Choi Siwon–> himself (31 thn)

Other Cast    :, Max Changmin — >   himself (27 thn) , Yunho — > Choi Yunho (32 thn ) , Sooyoung Brother

Type              : Chapter

Genre           : Romance, Friendship, Family , Sad Or Happy Ending ?

Rating          : PG- 17 ( All reader who Open mind )

  Disclaimer : This story inspired from Just Like Haven Novel by Julia Quinn , The Last Song Movie and Novel by Nicholas Spark, It Happened One Autumns Novel by Lisa Kleypas , Kingdom Of Dream Judith McNaught, The Viscount Who Loved Me Novel by Julia Quinn , The Vampire Diaries Season 3 Delena Moment, Goodbye by Miley C. Hope you like it guys. Not for to copy and Please don’t be plagiator!

Chapter – B.2-

“I’m selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard to handle. But if you can’t handle me at my worst, then you sure as hell don’t deserve me at my best.” 
― Marilyn Monro

********************

Author POV –

Ringwood, Hampshire 2012

Bip. Bip. Bip.

“ Hey , ini Sooyoung. Silahkan tinggalkan pesan dan saya akan menghubungi Anda kembali.”

“ Hey Soo, aku Yoona. Aku tahu kau sedang ada di kamar mandi. Aku memberimu waktu lima menit untuk mengangkat teleponku, sebelum aku menerjang kondomu seperti angin topan. “ Klik. 

Sooyoung memutar tombol metalik pada stereo portabelnya, saat mendengar suara Yoona menggaung di ubin-ubin kamar mandi. Sooyoung masih menikmati berendam air hangat di jacuzzinya-nya saat panggilan Yoona masuk ke kotak penjawab teleponya. Dia sudah biasa dengan sikap Yoona yang lugas dan sering menerjang – secara harfiah – kondonya. Tapi tetap saja semuanya selalu membuatnya terkejut saat mendengar suara melengking Yoona di telinganya. Namun, tak bisa dipungkiri kegusaran Yoona selalu mengundang tawa di bibirnya. Sooyoung mencoba memutar otak, apa yang menyebabkan sahabat sekaligus calon kakak iparnya itu terdengar begitu gusar. Tapi otaknya masih leleh karena genangan air hangat yang melingkupi tubuhnya, dia berjanji dalam hati untuk memikirkannya nanti. Setelah semua tubuh dan ototnya mengendur dari rasa letih.

Dengan pandangan kabur karena uap air panas yang merendam tubuhnya, Sooyoung mencoba untuk melihat bayangannya pada cermin di hadapannya. Sooyoung menyadari begitu banyak perubahan pada dirinya. Seiring waktu berlalu, tak hanya lemak bayi di pipinya yang menghilang, kulitnya juga semakin  menggelap karena sering bepergian ke Tybee Island, Georgia selama musim panas berlangsung. Sooyoung sudah bukan lagi gadis manja dan suka meninggikan suara saat berbicara, atau gadis yang membenci baked beans yang berlendir. Dia benar-benar sudah berubah, secara fisik maupun mental. Sooyoung yang saat ini adalah gadis mandiri yang memiliki fokus dalam hidup. Mulanya dia heran karena tempramentnya yang sangat sensitif, mengingat dia tinggal di daerah dengan curah hujan tinggi. Tapi perjalananya ke Georgia satu tahun lalu memberinya pandangan baru. Laut yang membentang dan panas matahari yang sangat jarang menyerap di pori-porinya, membuat Sooyoung tahu satu hal, bahwa hidup tak pernah sesederhana yang pernah dipikirkannya. Dia mengakui selama ini dia begitu naif dengan hidupnya. Tapi kepergian Siwon merubah segalanya.

Siwon tak pernah menepati janjinya untuk menghubunginya. Sooyoung bukan tak mencoba, setiap hari dia akan mengirim pesan instan pada portal chatting yang diikuti Siwon. Dia tak bosan mengirim e-mail yang tak berguna dan remeh temeh. Entah kenapa kebiasaan itu menjadi sebuah kebutuhan bagi Sooyoung. Setiap pagi tiba dia selalu berlari menuruni tangga dan menghambur ke arah kotak surat di taman cottage-nya. Walau akan berakhir dengan kekecewaan, tapi harapan itu tak pernah pupus di hatinya. Dia tak pernah meninggalkan sisi telepon saat sedang ada di rumah, dan mencoba merengek pada eommanya untuk dibelikan ponsel. Tapi tetap saja, Siwon tak pernah membalas semuanya. E-mail, pesan, surat, panggilan Sooyoung selama dua tahun kepergiannya. Sooyoung mulai merasa bosan dan kebosanan itu memakan harapannya. Dia putus asa dan hampir menyerah. Tapi dia masih bertahan setahun lagi, sampai surat itu datang.

Sooyoung sangat gembira saat itu. Dia mendengar Yunho berteriak memanggilnya saat surat pertama dari Siwon datang. Sooyoung merebutnya dan mencoba membaca untaian kata yang tak banyak. Dan benar saja, tak ada nama Sooyoung di sana. Dia mencoba mengulang untuk kesekian kalinya, tapi Siwon hanya menyebut eomma dan oppanya dalam surat itu. Punggungnya merosot kecewa. Dia menangis seharian, mencoba meyakinkan hatinya jika Siwon hanya sedang menjahilinya. Tapi semuanya terus berlalu tanpa kehadiran Siwon dalam hidupnya. Empat tahun berlalu tanpa dia. Sooyoung sudah mulai lelah mencoba, dia hanya hidup dalam kenangan hanya agar kebencian itu tak tumbuh di hatinya.

Dia lulus dari Barton Collage dan menerima pekerjaan di kantor kecil di Tybee Island, Georgia. Dia menetap di sana selama enam bulan dan jatuh cinta pada tempat itu. Dia mulai menjalani hidupnya dan menyingkirkan kenangan tentang Siwon, cinta pertamanya. Dan dia bertemu dia ….

Bip. Bip. Bip.

“ Hey , ini Sooyoung. Silahkan tinggalkan pesan dan saya akan menghubungi Anda kembali.”

“ Hai, Lass. Aku sudah sampai di Farnborough Airport. Aku harap kau segera menjemputku sebelum aku jadi turis beku.” Klik. 

Sooyoung tertawa perlahan, saat mendengar suara Changmin menggema di ubin kamar mandinya. Sooyoung beranjak dari jacuzzinya-nya dan meraih handuk putih yang terletak di lemari pakaian yang berhubungan langsung dengan kamar mandinya. Dia melaju ke arah telepon di nakasnya dan menekan tombol untuk menghubungi Changmin. ” Hai, Sayang. Aku akan segera menjemputmu. Ya. Hey, jangan bilang aku belum mengingatkanmu ini puncak musim gugur. Ok. Bahagiakan aku dengan senyum di bibir nakalmu. Ok Bye. ” Sooyoung meletakkan kembali telepon pada tempatnya. Dia menghidupkan kembali speaker portable yang sedang melantunkan lagu  Goodbye dari Miley.

Sooyoung menggumamkan lirik lagu seraya memilih pakaian yang tepat untuk menjemput Changmin di bandara. Dua minggu lagi adalah hari pertunangan Yunho dan Yoona, dan dia meminta Changmin untuk menjadi pendampingnya. Persetan dengan Siwon dan kenanganya. Dia memiliki Changmin, orang yang akan mengisi masa depannya. ” Its Goodbye , ” gumam Sooyoung yang sedang mengoleskan sentuhan terakhir pada bibirnya. Dia tersenyum memandang hasil polesannya dan meraih kunci truck-nya untuk melaju menuju bandara. Seandainya saja dia tahu rencana Tuhan untuknya.

**********************

Tybee Island, Georgia 2011 

Musim Panas 

Well, well, well, kurasa Amerika tak begitu buruk jika tuan Matahari tak terlalu terik hingga seharian. ” Gumam Annabelle saat mereka melaju di dalam mini bus yang membawa mereka menuju katedral kuno, bangunan tertua di Georgia yang baru seminggu lalu mengalami kebakaran hebat yang memakan setiap inti bangunan. Termasuk cermin buatan seniman ternama di era Medieval.

Sooyoung dan Annabelle sudah menetap dua bulan di Georgia dan masih harus berkompromi dengan sinar mentari yang terik di siang hari. Karena terbiasa hidup dalam lindungan awan dan hujan di Inggris, Amerika tentu bukan tempat yang bersahabat bagi mereka. Annabelle terus bergumam tentang matahari dan awan yang tak akur saat Sooyoung menyapukan pandangannya ke laut berpasir putih yang memiliki ombak putih yang bergelung pelan menghantam pantai. Seulas senyum terlukis di wajahnya saat dia melihat banyak sekali penduduk lokal menghabiskan waktu libur  musim panas mereka untuk berjemur. Sooyoung juga menginginkan hal yang sama. Selama hidupnya dia hanya pernah dua kali melihat pantai dengan mentari di atasnya. Dan dia tak terlalu lama menghabiskan waktu di sana. Seolah ada yang memanggilnya, Sooyoung menetapkan hati untuk mengunjungi pantai Georgia setelah evakuasi mereka selesai.

” Hei, Miss tukang melamun. Kita sudah sampai.” Ejek Anabelle saat bus mereka sudah berhenti di depan puing-puing katedral bergaya Georgian.

” Bolehkah aku ke pantai setelah kita selesai?” tanya Sooyoung perlahan.

” Terserah kau. Saat ini fokus kita pada bangunan tua menyedihkan ini.” Ujar Annabelle sebelum salah satu petugas keamanan menghampiri mereka.

**************************

” Lempar …lempar …. dasar idiot.”

Sooyoung memandang kagum ke arah kerumunan orang yang sedang menyaksikan beberapa lelaki dewasa bermain volly pantai dengan seru. Mereka menghajar dan menampik bola dengan ketangkasan seorang ahli. Sooyoung menghentikan langkahnya di depan kios minuman dan memesan milkshake coklat untuk meredakan rasa haus yang merayapi tenggorokannya. Annabelle benar, tubuhnya bisa saja terpanggang radiasi dari tuan matahari. Tapi Sooyoung berkeras untuk merasakan ombak putih itu merayapi kakinya.

Sooyoung menuju ke arah gerombolan penikmat pertandingan saat sebuah bola melayang ke arahnya dan mengenai gelas minumnya yang setengah penuh. ” Ahh ….” Gumam Sooyoung saat cairan manis itu membasahi dadanya. Beruntung sekali dia sudah melepas kemeja panjangnya dan hanya mengenakan tank top putih yang menjadi pelapis dalam kemejannya.

” Maafkan aku.” Ujar seorang lelaki dari balik tubuh Sooyoung.

Sooyoung berbalik ke arah pemilik suara itu. Dia di sana. Seorang lelaki berwajah Asia dengan rambut hitam cepak dan mata coklat yang indah. Sooyoung mencoba mendongak ke arah wajah yang dihiasi bulir keringat dan senyum miring yang sangat menggoda. Sooyoung sedikit mengernyit saat mengingat senyum miring itu di wajah orang yang sama sekali lain, wajah Siwon. ” Kau baik-baik saja?” tanya lelaki itu saat Sooyoung hanya menatapnya dengan pandangan kosong.

Well, aku lebih suka meminum milkshake-ku dibanding menumpahkannya.” Jawab Sooyoung dengan nada sedikit ketus. Dia tak tahu kenapa dia bereaksi begitu berlebihan, tapi senyum lelaki itu membuatnya mengingat soal Siwon, dan itu membuatnya kesal. ” Tapi aku baik-baik saja.” Lanjut Sooyoung.

” Maafkan aku.” Sekali lagi lelaki itu berucap, tapi kali ini dengan nada sedikit geli. Sooyoung menatap lelaki itu sekilas. Dia tidak jelek, hidunganya mancung, terlalu mancung untuk menyeimbangkan matanya yang sayu. Tapi alis dan dagunya benar-benar sempurna, seakan menutupi kurangnya lemak di pipinya. Tapi laki-laki itu tak jelek. Dia tinggi dan tubuhnya bagus. Walau tak sebagus Siwon dan Yunho, tapi dia cukup bisa membuat wanita berlutut minta dicium. Ada sesuatu yang unik dari caranya melafalkan tiap kata. Dia bukan benar-benar orang Amerika. Sooyoung tahu karena dia juga bukan benar-benar orang Inggris. Sooyoung mulai merasa ada logat kental yang terselip di tiap kata yang berusaha terlihat sangat Amerika itu. Logat yang sama dengannya, logat Korea yang tetap dimilikannya walau dia lahir dan tumbuh di Inggris.

” Lain kali berhati-hatilah.” Kata Sooyoung seraya memberikan senyum ramah yang dipaksakan. Dia membuang gelas milshake-nya kedalam tong sampah yang tak jauh darinya sebelum melaju kembali mendekat ke bibir pantai.

” Hei. Aku benar-benar meminta maaf. ” Kejar lelaki itu. Dia mengimbangi langkah panjang Sooyoung dan mencoba melaju di hadapannya dengan langkah mundur. ” Aku akan membelikanmu kaos baru.”

Sooyoung menghentikan langkahnya. ” Maaf. Tapi tak perlu. Kau membantuku tak nampak aneh di pantai ini. Mengingat aku satu-satunya orang bercelana jeans dan masih kering. Kurasa kau membantuku terlihat sama seperti pengunjung pantai lainnya. Basah. Well, walau dengan cairan kental dan lengket seperti milkshake. Jadi, lupakan.” Jawab Sooyoung diwarnai sarkasme pada suaranya.

Lelaki itu tertawa dengan renyah. ” Kau gadis yang ketus, ya? Apa semua gadis Inggris sama sepertimu?”

Sooyoung melirik lelaki itu dengan kesal. ” Baik Tuan Amerika. Izinkan aku menanyakan satu hal. Apa ini cara semua pria Amerika mengajak seorang gadis berkenalan? Menumpahkan milkshake-nya, menawarkannya kaos baru, dan mencoba bertanya-tanya tentang habit di negaranya?”

Lelaki itu tertawa lagi, kali ini lebih keras. ” Percayalah Miss, aku tak selalu menepis bolaku ke gadis yang memegang milshake.” Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah Sooyoung sebelum berbisik, ” Karena kebanyakan dari gadis itu tak semenarik dirimu.”

Sooyoung terperangah saat melihat senyum jahil di wajah lelaki itu. ” Perayu ulung yang ketinggalan zaman.” Gerutu Sooyoung yang membuat lelaki itu meledak tertawa.

” Mari kita mulai dari awal. Aku Max Changmin,” ujar lelaki itu seraya mengulurkan. ” Dan kau Miss ?”

” Sooyoung. Choi Sooyoung.” Jawab Sooyoung sebelum berlalu pergi, mengacuhkan uluran tangan Changmin dan meninggalkan Changmin dalam tawanya.

Ilustrasi :

Source : The Last Song Movie

vlcsnap-2012-12-05-14h37m32s42

vlcsnap-2012-12-05-14h37m52s242

vlcsnap-2012-12-05-14h38m03s95vlcsnap-2012-12-05-14h38m18s245

************************

Seoul, Korea Selatan 2012

Siwon tersenyum menatap ke arah potret yang selalu tersemat di atas meja kerjanya. Sudah empat tahun dia mengisi jabatan Appanya, sebagai president direktur di perusahaanya. Siwon mendesah rindu setiap dia berdiam menatap potret gadis kecil di hadapannya. Sooyoung masih sangat polos di potret itu. Giginya masih berlubang dan rambutnya belum selebat saat dia dewasa. Tapi mata hitam kelam yang membulat lucu itu selalu ada bersamannya.

Siwon tak pernah mengira, dia mampu menahan diri untuk tak menghubungi Sooyoung selama empat tahun ini. Dia butuh fokus untuk memulihkan kembali kejayaan perusahaan keluarganya. Dan semua itu tak boleh melibatkan Sooyoung. Hanya dengan menyebut namanya, Siwon bisa saja meraih jasnya dan terbang melintasi benua untuk memenuhi janjinya pada Sooyoung. Dia tahu gadis itu selalu menunggunya. Setiap kali Siwon melihat e-mail selalu ada nama Sooyoung di barisan teratas kotak masuknya. Siwon selalu membaca dan menyimpan segalanya. Tapi dia tak berani membalas dan memberinya janji lain. Karena dia sudah memutuskan untuk melanggar janji pertama yang dibuatnya. Dia tak ingin lagi berjanji sesuatu yang kosong. Walau menyadari perbuatannya akan menyakitkan Sooyoung, tapi dia tahu Sooyoung akan mengerti keputusannya. Dan saat ini adalah saat yang tepat.

Dua minggu lagi adalah pesta pertunangan Yunho. Dan dia sudah berjanji pada sahabatnya untuk datang dan menginap selama beberapa bulan, hingga marathon pernikahannya berlangsung. Siwon menggunakan saat itu untuk menyatakan perasaanya pada Sooyoung. Dia ingin melamar gadis itu dan menjadikannya miliknya. Menebus segala kebohongan yang sudah dia perbuat selama empat tahun ini. Sooyoung pasti akan mengerti bahwa Siwon juga menderita tak bisa menemuinya. Dia hanya mampu memuaskan kerinduannya melaui mimpi-mimpi nakal yang melibatkan Sooyoung dan kaki jenjangnya. Dia selalu tertawa saat mengingat kenangan mereka. Dansa tanpa musik. Berbagi makanan. Dan ciuman kecil di meja makan empat tahun lalu. Siwon merindukan merengkuh Sooyoung dalam tidurnya. Menggoda Sooyoung saat membaca. Dan membuatnya terpekik kesal saat dia mencoba menguji kesabarannya.

Siwon meraih kotak cincin di hadapannya. Dia membuka perlahan kotak itu. Dia tersenyum saat membayangkan reaksi Sooyoung saat dia menyatakan cintanya. Dia tak ingat sudah berapa ekspresi yang selalu dia bayangkan. Dia merencanakan berbagai adegan dan membayangkan berbagai kemungkinan. Sooyoung tak akan menolaknya. Dia tahu Sooyoung juga mencintainya. Siwon hanya berdoa satu hal, agar apa yang dipikirkannya sesuai dengan kenyataan. Dia menepis rasa takutnya, karena membayangkan kemungkinan Sooyoung menemukan lelaki lain dalam hidupnya. ” Tunggu aku, Soo. Tunggu!” batin Siwon dalam hati.

************************

Ringwood, Hampshire 2012

” Inikah lelaki pematah hatimu itu?”

Sooyoung mendelik ke arah Changmin yang masih berdiri di depan almari yang berisi jajaran foto keluarga dan sahabatnya. Changmin memegang potret lama yang menampilkan dirinya sedang bergelayut pada Siwon. Foto yang diambil saat kelulusan sekolah menengahnya. ” Kau selalu punya energi untuk mengolokku ya, Tuan Amerika ?”

Changmin tersenyum saat mendengar ejekan Sooyoung, yang masih sibuk di dapur, ” Jangan sungkan.”

Sooyoung memutar bola matanya dengan berlebih. ” Kau mau coklat hangat atau kopi?” tawar Sooyoung yang masih berkutat di dapur.

” Teh saja, terimakasih.” Jawab Changmin tak acuh. Sooyoung sudah terbiasa dengan sikap Changmin yang mirip dengan Siwon dan Yunho. ” Apa dia akan datang ke pesta pertunangan Oppamu ?”

Sooyoung bergidik acuh saat memasuki ruang tamu dan membawa dua cangkir berisi teh hangat. Changmin meraih cangkir yang berisi salah satu cangkir yang di bawa Sooyoung sebelum menempatkan dirinya di sofa kulit yang nyaman. ” Taruhan. Dia pasti datang. ” Ujar Changmin yakin. Dia melirik ke arah Sooyoung yang mencoba berpura-pura tak acuh. ” Apa kau siap kalau dia tiba-tiba muncul di hadapanmu ?”

Sooyoung memikirkan ucapan Changmin sesaat. ” Aku tak tahu.”

Changmin meliriknya dengan tatapan nakal. Dia tahu Sooyoung tahu jawabannya. ” Kau tahu. “

” Tidak. “

” Kau tahu…..”

” Tidak dan tidak.”

Changmin meliriknya lagi dengan senyum mengejek. ” Baiklah aku tahu. Aku tak siap.” Jawab Sooyoung mengaku kalah.

Changmin tertawa dengan keras saat melihat pipi Sooyoung memerah. ” Butuh bantuan?”

Sooyoung melirik curiga pada Changmin yang tersenyum lebar. Tak ada yang lebih menakutkan dari pada senyum Changmin yang lebar. Dia sudah belajar selama setahun ini. ” Apa yang kau rencanakan?”

Changmin mengulum senyumnya dengan perlahan. Dia mendesah saat ide itu muncul di kepalanya. ” Apa kau tak ingin sedikit pembalasan?” Changmin menyesap tehnya sebelum berbisik pada Sooyoung.

Sooyoung memekik perlahan saat menyadari apa rencana Changmin. Ini gila …. Dia pasti gila….

**************************

Sooyoung menghentikan truck-nya di depan cottage keluarganya. Beberapa mobil SUV berjajar di depan pelataran jalan yang menghubungkan cottage-nya dengan peternakan keluarganya. Hari masih sangat larut saat Sooyoung berkendara melintasi jalan puluhan kilometer untuk memenuhi panggilan eommanya. Dia bilang ada tamu yang harus dijemput olehnya saat ini. Dan itu pasti ada hubunganya dengan kerabat eommanya yang ada di seluruh penjuru dunia.

Sooyoung masih mengenakan piama tidur yang hanya dilapisi dengan mantel bulu domba saat memasuki pintu cottage-nya. Sudah hampir empat tahun dia tidak pernah menginap di rumahnya. Sooyoung memasuki area dapur yang dipenuhi oleh bibi dan paman dari keluarga almarhum Appanya. Mereka bertukar sapa dan masih merasa kaget karena kegembiraan pernikahan Yunho membuat mereka bisa berkumpul lagi setelah waktu yang lama.

Sooyoung menguap letih saat Yunho menuruni tangga. Sooyoung meliriknya dengan pandangan sayu. ” Kau yang menikah. Kenapa aku yang susah?” gerutu Sooyoung dengan suara kantuk. ” Ini masih pukul 5 pagi, bahkan ayam masih tidur di gubuknya. Aku sangat membencimu.”

Yunho menyeringai tanpa rasa bersalah. ” Oh terimakasih, aku sangat tersanjung. Aku juga mencintaimu adik kecil.”

Sooyoung mendesah lelah melihat tingkah Oppanya yang tak pernah berubah. Dia berdoa agar Yoona mampu bertahan dengan sikap Oppanya yang seperti orang gila. Hanya orang sinting yang mampu mencintai Oppanya dengan tulus. Dan sejak dulu Sooyoung tahu bahwa Yoona memang sedikit sinting.

” Kau sudah datang?” Eomma Sooyoung melaju di antara kerumunan saudara-saudaranya. Dia meminta maaf pada Sooyoung karena menggangu istirahatnya yang tak banyak. Sooyoung hanya tersenyum lirih dan merasa apa yang dilakukannya tak sebanding dengan kerja keras Eommanya selama ini. Bahkan jika Sooyoung disuruh menerjang badai dia akan melakukannya. Apapun, demi Eommanya.

” Siapa yang harus aku jemput Eomma?”

” Tuan Choi, lass.”

Sooyoung mengernyit saat mendengar nama Choi. Dia bermarga Choi. Dan hampir seperempat orang Korea bermarga Choi. Dia menepis pikirannya, saat mencoba menerka bahwa Choi ini adalah Choi Siwon. Sebagai ganti keraguannya Sooyoung tersenyum pada Eommanya. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri saat memasuki truck-nya dan melaju menuju bandara. Bukan. Pasti bukan Choi Siwon. Dia tak akan kembali. Dia pembohong…

**********************

Farnborough Airport , Hampshire , Inggris

Suara dencit ban pesawat terbang yang mendarat membuat Sooyoung terbangun dari tidurnya. Dia hampir lupa dia datang ke bandara Farnborungh dan menyetir di tengah pagi buta 29 km jauhnya adalah untuk menjemput Tuan Choi.

Sooyoung masih mengenakan piama di balik mantel kulit dombanya. Rambutnya diikat sekenanya dan dengan malas dimasukkan dalam topi Yankee yang didapatnya dari kunjungannya ke Amerika dua bulan lalu. Ada air mata kantuk di ujung mata coklatnya. Dia menguap dan merenggangkan otot lehernya yang kaku. Pandangannya terpusat pada para penumpang yang baru keluar dari pintu kedatangan luar negri. “ Permisi….Permisi.” Jerit Sooyoung di tengah kegaduhan yang ada di hadapannya. Dia berjinjit dan meloncat kecil karena di hadapannya sedang berdiri dua pemuda bertubuh raksasa . “ Sorry.” Ujar Sooyoung saat tangannya secara tak sengaja mengenai kepala si pemuda raksasa di hadapannya.

Sooyoung melangkah ke arah lain tanpa melepaskan pandanganya dari arah pintu kedatangan . “Diamana kau?“ geramnya saat melihat petugas keamanan bandara mulai menutup pintu kedatangan penumpang . “ Sial! Aku kehilangan dia. “

Sooyoung akan beralih menuju ruang tunggu tapi ada sebuah jemari yang mengetuk-ketuk punggungnya dengan tak sabar. “ Maaf.” Ujar pemilik jemari itu dengan logat khas Inggris yang kental .

Sooyoung berbalik dengan alis memincing. Pemuda itu memiliki tinggi yang sama dengan Yunho. Tidak, hampir sama tepatnya. Dia mengenakan jacket kulit coklat yang membungkus tubuh tegapnya seperti kulit kedua. Kacamata hitamnya menutupi mata yang diyakini Sooyoung pasti berwarna gelap. Rambutnya sedikit acak-acakan karena buaian angin. “Lama tidak bertemu, Soo.” Ujar pemuda itu seraya tersenyum miring, memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi di balik bibir penuhnya.

“ Soo ?” hanya seorang. Hanya seorang di dunia ini yang memanggil dirinya dengan sebutan Soo. Dan orang itu sudah pergi hampir 4 tahun yang lalu. ” Kau?” jerit Sooyoung saat menyadari Siwon adalah tamu yang dimaksud Eommanya.

“Ya, Aku.” Jawab Siwon seraya membuka kacamata hitamnya. Mata yang sama itu tersenyum padanya. Keledai Bau. Danau. Boneka dan Kue dari tanah liat. Semua kembali tergambar di ingatan Siwon. Hanya satu yang berubah. Hanya satu. Wanita yang ada di hadapannya.

**************************

Sooyoung mengemudikan truck-nya dengan mata sembab. Dia kurang tidur, lelah, dan bau. Demi Tuhan dia tak akan mau mengikuti permintaan Eommnya jika saja dia tahu siapa Mr. Choi sebenarnnya.

Dia melirik sekilas ke arah Siwon yang duduk dalam diam. Ada kerinduan terpancar di matannya saat melihat baris pepohonan yang mereka lalui. Musim gugur sudah mencapai puncaknya, semua daun pepohonan menguning dengan cantik. Tanah-tanah basah dihiasi oleh humus dedaunan yang membusuk.  Bau embun pagi dan lumut yang menguar membuat kau tahu kau saat ini sedang ada di Hampshire. Sirat kekuningan dari ujung langit membuat Siwon sekali lagi tersenyum. “Aku merindukan tempat ini.” Ujarnya entah pada siapa.

Well kita sudah sampai.” Ujar Sooyoung saat mereka memasuki jalan setapak menuju perkebunan keluargannya. Sooyoung menekan klakson saat melihat gerombolan sapi ras murni yang diternakkan keluarganya menghalangi jalan truck-nya. “ Terimakasih Zakary.“ Kata Sooyoung pada salah satu pengurus peternakannya yang membantu sapi-sapi itu menepi. Truck-nya berhenti di depan cottage mungil yang dibangun dari bata merah. Sooyoung menginjak pedal rem dan mengunci truck-nya agar tetap diam di tempatnya, “Kau boleh turun.”

Siwon memandang Sooyoung kemudian cottage di hadapannya.“ Kau tidak turun ?”

“Aku tidak tinggal di sini lagi. Aku punya kondominium di  Ringwood. Tak begitu jauh dari sini. Aku akan kembali setelah mengambil beberapa barangku yang tertinggal..” Dan Changmin. Batin Sooyoung dalam hati. Dia mendadak ingat dengan rencana gila Changmin.

Siwon mengangguk pelan. Dia tak segera turun. Tatapannya masih terkunci pada Sooyoung. “Apa yang kau lihat ?”, tanya Sooyoung gusar.

Siwon menggeleng perlahan. “Bolehkah ?”

“Boleh? Apa?”

Siwon semakin mencondongkan tubuhnya mendekati Sooyoung, dia meraih topi Yankee yang dikenakan Sooyoung, dengan kasar dia membuka topi itu bersama dengan kaitan longgar yang mengikat rambut ikal Sooyoung.

“ Yack! Apa yang kau lakukan?” teriak Sooyoung saat rambut sepinggangnya kembali jatuh ke sekeliling tubuhnya. Siwon tak mengejapkan matanya sedetikpun, mencoba menangkap sosok yang selalu ada di bayangannya selama 4 tahun terakhir.

Siwon tersenyum puas sebelum mencondongkan tubuhnya untuk mencium Sooyoung di pipi. “ Dorongan hati , bye !”,

Sooyoung mematung di tempatnya saat melihat Siwon bergegas turun dari truck-nya dan kembali membuat dunianya jungkir balik. Changmin benar, sedikit pembalasan akan terasa menarik. Sooyoung berdoa dalam hati agar Tuhan membantu membalas lelaki yang membuatnya menanti selama bertahun-tahun.

******************************

-TBC-

Wuhhhh Part yang sangat panjang dan membosankan. Hhahahah miane ya reader sangat panjang dan membosankan dan aneh dan banyak taypo. Maaf karena saya ngantuk sekali kita lanjut kapan kapan ya, antisipasai kejahilan Changmin. Tolong jangan marah ya nanti bagaimanapun ceritanya mengalir hahahahah

Dont be silet reader

Ok bye bye

Happy Reading 🙂

Link :

The Greatest Season Series

Spring In My Heart   :  Oneshoot

Autumn In Hampshire  :  Chapter A ¦ Chapter B.1

Advertisements

49 thoughts on “[ FF ] Autumn In Hampshire – B .2-

  1. Wuaah, parah banget siwon oppa engga ngasih kabar ke soo unnie selama 4 tahun. Jadi sedikit curious sama hubungan antara changsoo disini sama rencana dari changmin oppa jangan bilang kalo changmin oppa ngaku2 jadi tunangannya soo unnie buat bikin siwon oppa jealous hahaha

  2. Ya TBC nya bikin gregetan nih,, kan blom tau rencana apa yg di buat sama changsoo, semangat ya bikin ff nya, di tggu klnjutan ff yg lain

    • he ye , semoga cepet sembuh matanya. Aku terharu dan snagat menghargainya, kamu mau commnt dan memaksakan membaca walau lagi sakit, mau nangis aku hehhe, makasih makasih beribu makasih. 😀 GWS

  3. ayooooooo soo eonni mnta bantuan changmin oppa buat bikin cemburu siwon oppa
    suka deh nnti soo eonni jd rebutan
    hihiii
    soo eonni jangan lgsg luluh dong sm siwon oppa
    kn gak ad salahny sdkt bermain2 dg siwon oppa
    hitung2 balas dendam slma 4 thn d cuekin
    wkwkwkwk
    😀
    ayo adaya smngt ya buat next partnya
    fighting!!
    🙂

    • HAHHAHAHAHHA Saya juga suka Soo jadi rebutan 😀 # ditampar para guardiant lol
      Ya sih ya sbel jg kan 4 tahun gt 4 thn ? lol
      Makasih Ze udah setia dengan AIH dan lainnya, saya mau tumpah air mata, lol
      Ya ya pasti deh semangat kalo banyak reader sadar commnt kayak ze kekke
      Semoga gak bosen yah 😀

      • adayaaaaa q kmbli lg k ff inii
        kangen pengen baca
        hhehehe

        ayo sinii q tampung air matany
        syp tw bs jd mutiara??!
        ;D

        iyaaa dong q gak bakalan bosen ngasih komen kn udh q bilang adaya tuh author fav q
        tulisanny adaya sllu q tunggu2
        *kedipkedipmata*
        soowon couple jjang!!
        adayaa jjang!!
        fightinggggggg!!!!
        🙂

  4. Eonni, ini aku vivi 🙂
    eonni, neomu johaaaaaayo
    aku suka eon 😀

    seperti biasa..
    I’m falling in love with your ‘diksi’
    haha

    lanjut next part ahh 😉

    • Anyeong Vivi kkekekke , omg jangan fallinginlope with diksi dek, fallinginlope ma lelaki aja deh enak lol.
      BTW makasih vivi dah nyempetin mampir dan membaca dan berkomentar
      TEBAR BUNGA
      hahahahha

  5. Oh choi siwon. Kau kejam. Akan lb baik jika kau mengabarkan sesekali. Aku yakin soo akan mengerti. 4 taun tdk dikabarkan sm sekali pasti akan menimbulkan rasa kecewa.
    Jd lah soo akan membalaskan dendamnya hahaha…..
    Dan pemeran pembantunya adalah….. Changmin Max.
    Keren!
    Lanjut ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s